Setelah dibongkar dan dijemur sampai kering, onggokan-onggokan busa dan kapas itu akan dimasukkan ke dalam kain kasur yang baru. Sambil menjahit kasur baru, sebentar-sebentar mata Mak Samah akan memandang ke sungai. Begitu tampak onggokan kasur, Mak Samah akan langsung meraih galah pengait, lalu melompat ke atas rakit, dan mendayungnya ke tengah, untuk menjemput kasur bekas itu. Begitulah aktifitas Mak Samah sehari-hari.
Namun tak banyak yang tahu, kecuali satu dua orang, di mana Mak Samah mendapatkan bahan-bahan untuk membuat kasur. Mereka hanya tahu Mak Samah adalah tukang kasur, yang menitipkan kasur-kasur buatannya pada sebuah toko mebel sederhana di Dukuh Bawah. Jarang sekali dari mereka yang pernah turun ke gubuk Mak Samah yang tertutup pohon-pohon di pinggir kali. Mereka hanya bertemu Mak Samah saat berpapasan di los pasar. Selebihnya mereka tak banyak mengetahui tentang wanita gemuk yang selalu mengenakan sweater bergambar burung penguin itu.
***
Entah siapa yang menyebar SMS, bahwa kasur buatan Mak Samah bahan-bahannya berasal dari kasur bekas milik orang mati. SMS itu masuk ke ponsel Marni saat dia dan suaminya beranjak ke kamar pengantin seusai acara akad nikah.
“Bang, kasur ini dibeli di mana?” tanya Marni pada suaminya, dengan wajah panik, sambil menunjuk ke tempat tidur bertabur bunga melati itu.
Ditanya seperti itu, wajah Gufron tampak bingung. “Kok bertanya seperti itu? Memang ada apa?”
“Jawab! Dibeli di mana? Kok balik nanya?” kata Marni, ketus, tanpa menunjukkan SMS gelap itu. Karena kalau SMS itu ditunjukkan, Gufron tentu akan merubah jawabannya.
Karena tidak dijawab, Marni mendesak lagi, “Tolong dijawab! Dibeli di mana?”
“Siapa pun tahu, bahwa semua kasur yang dipakai oleh warga Kampung Muara dibeli di Dukuh Bawah.” jawab Gufron.
“Kasur Mak Samah?” mata Marni terbelalak.
“Ya. Kenapa?” tanya Gufron.
“Aku tidak mau tidur di kasur bekas orang mati!” kata Marni, menunjukkan SMS itu pada Gufron. Setelah itu, tanpa permisi pada suami dan mertuanya, Marni langsung kabur, pulang ke rumah orangtuanya dengan naik taksi. Maklum perempuan masih hijau, baru tamat SMK, belum bisa membedakan baik-buruk.