Apologia Si Sariburaja

Kau, Pareme, selalu membuatku menoleh dua kali padamu setiap kali hendak membuat keputusan. Bahkan saat aku dan serulingku menaikkan somba-somba untuk Ompung Debata Mula Jadi na Bolon, suara Ompung berbisik di telingaku, “Mainkan yang bagus! Jangan berhenti bersuling sebelum dagu Pareme ikut terangkat ke langit.”

Ingatkah kau malam saat bapak kita Guru Tatea Bulan marah, karena kau ketahuan bermain-main dengan si Homang?

Dalam gelap, diam-diam kujilati butir air mata yang lolos dari pelupuk mata. Sekeras apapun kupaksa agar tak menangisimu. Saat tubuhmu terlempar ke rumput, rambut panjangmu terurai menutupi dagu kayumu, aku tak tahan lagi. Kubawa serulingku berlari menjauh, ke puncak Pusuk Buhit. Di sana, kutiup segenap amarah menuju bintang-bintang. Dalam klimaks, seruling kulemparkan ke langit, kuhunjamkan pada bulan, sambil berteriak.

“Untuk apa lagi aku berseruling? Siapa yang hendak kumanterai agar mengangkat dagunya padamu, Ompung? Sudah tertunduk dia! Dagu bercahaya itu, kini merapat pada dada berisi luka! Oooi!”

“Ambil serulingmu.” Suara Ompung Mula Jadi na Bolon menggelegar di pendengaranku.

“Ambil serulingmu, jaga baik-baik. Bukan hanya lagu yang terlantun darinya. Nada-nada serulingmu memanggil roh kekuatan dan penghiburan dari langit nomor tujuh. Ibotomu Si Boru Pareme adalah kecintaan semua penghuni langit. Bila dia bergembira, pintu-pintu langit berderak terbuka menumpahkan pasupasu bagi tanahmu.”

Pareme, selama ini kau selalu jadi penentu arah langkah, pilihan keputusanku. Malam itu di puncak Pusuk Buhit, aku tersadar: hati dan mata Ompung Mula Jadi na Bolon pun tercondong padamu, Ito!

Ketika Bapak kembali mengamuk, meraung pada langit mengutuki perutmu yang membuncit, mana sanggup hatiku melihatmu hancur? Mana sampai tondiku membiarkanmu menanggung amarah Bapak sendirian?

Waktu Bapak menjambak rambut panjangmu yang kusut masai. Waktu Bapak menampari wajah piasmu yang sembab. Waktu piso gaja dompak Bapak tinggal sejengkal lagi dari perutmu. Apa yang bisa kuperbuat, selain melompat dan melindungimu?

Unang sai muruk ho, Bapa! Unang tu boru mi. Tu ahu baen, Bapa. Ahu do i. Ahu do i!”

Arsip Cerpen di Indonesia