Angin tertegun di langit Sianjur Mula-mula. Ujung piso Bapak membeku tepat di kulit wajahku. Perlahan asin darah dari kulit yang terbelah sayatan piso, mengisi sudut bibir pecahku. Pertanda aku belum mati ditusuk Bapak.
Hal pertama yang kulihat adalah kelam mata Bapak menombak jiwaku dalam-dalam. Suara pertama yang kudengar adalah sedu-sedanmu, Pareme. Hanya suara itu yang terus terngiang di kupingku. Pun saat kita berdua terseok digiring mereka yang diperintah Bapak membinasakan kita, dua pendosa. Ketika mereka akhirnya memilih tidak membunuh kita. Abang dan kakak kandung mereka. Ketika mereka meninggalkan kita setengah telanjang di tengah hutan Sabulan. Dengan membawa ulos kita yang mereka lumuri darah kambing, sensasi pertama yang akhirnya terasa oleh inderaku adalah dingin. Dingin yang menusuk hingga jantung.
Kita dibuang, Pareme. Kau, Boru ni Raja, si Rumondang Bulan, dibuang ke pelosok Sabulan. Kita dibuang, seperti abang tertua kita Si Raja Uti. Abang dibuang karena tubuhnya dianggap cacat di mata halak sahuta kita.
Kita, dibuang karena tondi kita dianggap cacat oleh mereka. Aku tahu, Ito, selama kita masih bersama. Kau dan bayi dalam kandunganmu tak akan pernah bisa hidup tenang. Karena aib yang mereka pasangkan pada kita, akan terus hidup di hati mereka. Selama mereka melihat kedua wajah kita yang serupa; karena kau memang kembaranku, itoku. Apa yang harus kulakukan, untuk menjamin kau dan anakmu, hidup? Apa menurutmu?
Karena ketika Si Raja Uti datang dalam wujud babiat telpang, seketika aku sadar. Kau dan anakmu akan dijaganya. Abang kita tahu caranya melindungimu dari segala makhluk di Sabulan.
Anak kita akan belajar cara bertarung monsak seperti harimau darinya. Aku, hasian? Aku hanya membuat hidupmu terpapar bahaya. Semua yang melihat kita bersama akan teringat amarah Bapak. Bahkan anakmu yang masih dalam kandungan, takkan pernah menganggapku sebagai bapaknya. Karena aku memang bukan.
Dia akan memandangku sebagai laki-laki yang telah menyusahkan hidup kalian berdua. Jadi, Pareme, apa lagi yang bisa kuperbuat, selain meninggalkanmu di tengah Sabulan, dalam penjagaan Babiat Telpang?
Tiga saja permintaanku, Ito. Pertama, namai anakmu Si Raja Lontung. Padanya bermuara angin dari seluruh penjuru, bahkan lebih. Bukan delapan, tapi sembilan. Kedua, simpanlah cincin peninggalan keluarga kita, yang sempat kubawa dari peti penyimpanan bapak kita Guru Tatea Bulan.