Bekas Bek

Ketika comeback sang bek sepertinya akan tertunda, serombongan bocah datang dengan bola aus di kempitan.

“Ikut main, Om,” yang paling besar di antara mereka menawarinya. “Pemainnya kurang satu.”

“Main di mana?” lagaknya enggan. Ia tunjuk lapangan yang sudah bekas itu. “Gawangnya juga nggak ada.”

Terlihat tak peduli, bocah itu hanya menunjukkan sepasang ranting yang dipegang, juga menunjuk ke kejauhan lapangan di mana seorang bocah lain tengah menancapkan sepasang ranting yang dipasang sejajar dengan jarak empat tapak kaki.

Tanpa bilang ya, ia sabet ranting dari tangan si bocah. “Sini, aku yang pasang.”

Setelah gawang kecilnya berdiri, dengan congkak ia teriak, “Kalian maju! Aku bek!” Untuk sepak bola gawang kecil, orang terakhir di depan gawang adalah bek. Dan ia tersenyum menyadari telah mengatakan kalimat khas itu. Itu kalimat yang dulu sering diucapkannya. Dulu sekali. Comeback itu pun terjadi.

Tak sampai dua puluh menit kemudian ia sudah ada di jalan menuju pulang. Setelah kebobolan banyak sekali. Setelah muntah beberapa kali.

***

IA sudah mengira badannya akan hancur-hancuran, namun tak disangkanya akan sehancur itu. Belum lagi tiga puluh menit, ia sudah seperti sepak bola Hungaria setelah selesainya era Para Penyihir Magyar. Ia mirip Brian Clough tanpa Peter Taylor—dan Nottingham Forest tanpa keduanya. Ia sama remuknya dengan sepak bola Indonesia. Ia lebih menyedihkan dari lapangan yang sudah jadi bekas itu. Jelas sudah, ia kini hanya bekas bek, tak ubah sepotong papan lapuk yang kita sebut sebagai bekas meja.

“Ah, pemain bola macam apa jam segini sudah pulang?” teriak sebuah suara.

Menyangka itu teriakan pikirannya sendiri, ia abai dan terus berlalu. Namun, teriakan itu ternyata berulang.

“Oi, pemain macam apa yang jam segini sudah pulang!” Kali ini lebih keras, yang kemudian disusul penyebutan namanya: Is. Ia pun terpaksa menoleh.

Sudut mata kanannya kemudian menemukan seseorang tengah duduk di kursi di beranda sebuah rumah, di sisi seberang jalan. Rumah yang segera saja dia kenali. Juga, wajah yang diakrabi. Meski telah lama tak jumpa.

“Cak Bal!” serunya dengan gembira.

Arsip Cerpen di Indonesia