Siaran langsung di TV seperti berhenti seketika. Ia menatap bibir bapaknya, menanti kalimat selanjutnya.
“Sebelumnya, untuk tambahan membangun rumah, ia sudah mematahkan jarinya. Tiba-tiba mertuanya sakit berat, sementara anak sulungnya mau masuk pondok. Ia bingung. Ia lompat dari lantai tiga. Niatnya yang penting masuk rumah sakit. Tapi ia tak tahu kalau di lantai satu masih ada perancah yang terpasang. Ia terpelanting, dan mendarat dengan cara tak semestinya.”
Is membayangkan tempurung lutut Jabal yang pecah.
“Ya, begitulah. Asuransi dapat gede. Mertuanya sembuh, anaknya masuk pondok bagus, tapi kakinya tinggal satu.”
Is memungut piring dengan nasi masih tersisa, bangkit, dan berjalan menuju dapur. Tanpa suara. Sebelum berhasil meletakkan piring di tempat cucian, ia memuntahkan kembali makanan yang belum lagi masuk ke lambungnya. Semuanya. Tak tersisa. ***
Mahfud Ikhwan, Cerpenis kelahiran Lamongan. Novelnya, Dawuk, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Sebelumnya, novelnya yang lain, Kambing dan Hujan, menjadi pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2014.