Bekas Bek

Pening kepala Is yang baru saja reda kambuh lagi. Kisah hilangnya kaki Jabal sangat baik untuk memenuhi keingintahuannya. Tapi kenangannya atas kaki Jabal, betapa kuatnya kaki itu saat masih muda. Betapa menakutkannya bagi lawan-lawan yang pernah menghadapinya, membuatnya tak ingin mendapat cerita yang lebih lengkap lagi. Paling tidak, jangan saat ini.

“Bapakmu tak pernah cerita?” tanya Jabal.

“Bapak tahu?”

“Dia orang pertama yang menolongku.”

Is pura-pura mengangguk. Ia ingin ubah arah pembicaraan, namun tak ada bahan. Beruntung, sekali lagi Jabal menyelamatkannya. “Eh, katanya kamu mau kawin?”

Itu jenis pertanyaan yang tidak disukainya. Namun, untuk kali ini, alangkah menyenangkannya ditanya seperti itu. “Ah, kata siapa?” jawabnya, dengan tawa.

“Dibikinkan kopi ya, Is?”

“Tak usah repot, Cak.” Satu-satunya keinginannya adalah segera pergi dari tempat itu.

“Ah, aku lupa,” Is pura-pura menempelak keningnya. “Tadi aku ditelepon Bapak diminta cepat pulang. Penting katanya. Makanya, ini balik awal, haha …. ” Is tertawa di ujungnya. “Lagi pula sudah sore. Kapan-kapan aku pasti main lagi.”

Is berucap salam dan bergegas pulang. Perutnya kembali mual. Ia berjuang sangat keras untuk tak muntah lagi.

***

“Dari mana?” tanya suara dari dalam rumah. Itu bapaknya, satu-satunya orang yang ada di rumah. Is menjawab dengan mencopot sepatu dan melepas kausnya.

“Ada yang main bola, apa?”

“Cuma anak-anak.”

“Sudah lama sepi itu lapangan.”

Tak ada sahutan dari Is.

“Makanlah. Nasinya sudah matang.”

Is baru ingat, seharian perutnya belum terisi nasi. Isi perut yang dimuntahkannya beberapa kali tadi adalah bakso yang ia beli dalam perjalanan pulang, ketika berganti bus di Terminal Bojonegoro.

Arsip Cerpen di Indonesia