Celurit Lelaki Idiot

Setiap kali Haris menelantarkan celurit itu di lantai, Sahmat akan sigap mengambilnya. Membersihkannnya dengan kemucing, dan digantungkan kembali di paku karat yang tertancap di tembok.

Sahmat juga rutin mengasapinya dengan kemenyan setiap malam Jum’at. Merendamnya ke semangkuk air kembang. Dan tekun mengaji di bawah celurit itu. Matanya sering menatap senjata tajam itu dalam waktu yang lama. Seperti sengaja menyesap bayangan celurit itu agar menjelma kekuatan gaib dalam tubuhnya. Tapi di akhir tatapannya, ia lebih sering terlihat menangis. Menunduk mengatur isak, tetes air matanya ia coba beri haluan lurus ke kain sarung yang mengembung di bagian lututnya. Sekali senggang, ia seka air matanya itu dan wajahnya dipaksa mendongak, meski kelopak matanya sedikit membengkak.

“Haris! Usiamu sudah dua puluh lima tahun, Nak. Teman seusiamu hampir semuanya sudah berkeluarga, bahkan sebagian telah punya anak. Sedang kamu sendiri masih tak bisa lepas dari burung-burungan, mobil-mobilan dan aneka macam mainan anak lainnya. Aku tak mengerti, bagaimana cara yang tepat untuk mewariskan celurit ini kepadamu?” suara Sahmat bertindih isak. Tangan kanannya mengelus dada. Sejenak membuang pandangannya ke jendela. Tapi panorama tetap monoton. Langit masih hitam. Hujan bagai jarum-jarum gaib menjahit tanah dengan suara setengah berdentam.

***

Suatu senja yang disilir angin pelan, saat langit ditumpah warna jingga, mumpung ada kesempatan, duduk berdua dengan anaknya di beranda, coba Sahmat ceritakan kepada

Haris tentang celurit itu. Haris menaruh maobil-mobilannya di atas meja, pandangannnya yang lugu, kadang fokus ke bibir ayahnya, membuatnya melipat senyum, memamer barisan giginya yang kuning. Dan di sela waktu, —yang paling banyak ia lakukan—adalah abai pada cerita ayahnya, memilih fokus pada roda depan mobil-mobilannya yang patah. Tapi Sahmat tetap tak menghentikan ceritanya, terus menuturkannya dengan suara yang nyaring. Butiran keringatnya bertebar di keningnya.

Celurit itu dibuat oleh salah seorang leluhur me- reka pada zaman Jepang. Berkali-kali dibawa bertapa, dan ditempa dengan aneka mantra. Berulang kali dibasuh dengan air putih yang sudah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Berkali-kali direndam ke dalam air kembang yang berasal dari tujuh benua. Berkali-kali pula diasapi kemenyan. Dan setiap tanggal 1 Muharram, sang pemilik harus membuat bubur ketan merah berkuah santan dengan param irisan pandan yang kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga dan kerabat. Setiap tanggal 30 Ramadan, sang pemilik harus melakukan ritual khusus berupa penyembelihan ayam yang bulu dan kulitnya serba hitam. Darah ayam itu diteteskan ke mata celurit itu hingga berlumur. Demikian Sahmat dengan napas setengah tersengal, terus bercerita kepada anaknya.

Arsip Cerpen di Indonesia