Celurit Lelaki Idiot

“Dari celurit pemberian Ayah itu.”

“Apa kamu yakin celurit itu bisa memberikan mainan kepadamu?

“Sangat yakin, Yah,” ujar Haris sambil mengangguk-angguk, dan berlalu begitu saja, masih dengan tawa-tawa lirih kebahagiaan. Sahmat menggeleng-geleng kepala. Kemudian sejenak ia melongo di daun pintu yang masih terbuka. Matanya haru melihat celurit sakti itu tetap tergantung di tembok.

***

Dada Sahmat seperti dihujani aneka kembang. Kesejukan jalar, menyentuh setiap urat di tubuhnya. Matanya terasa teduh melihat cara Haris merawat celurit itu. Haris yang idiot, yang selama ini kerjanya hanya makan, tidur dan bermain, ternyata bisa juga mengasapi celurit itu dengan pembakaran kemenyan. Menyiramnya dengan air kembang dan menaburinya dengan aneka kelopak bunga.

Tak ada rona muram lagi di wajah Sahmat. Sebagai orangtua, ia sangat bahagia melihat anaknya bisa menunai ritual jaga pusaka yang diajarkan leluhur. Ia baru tahu, ternyata di balik ujian idiot yang Haris alami, masih meyimpan banyak mutiara. Sahmat sangat senang ketika masuk ke kamar anaknya, ada ruap harum kembang dan kemenyan, irisan halus kelopak bunga warna-warni bertebaran di lantai. Bersekutu dengan aneka maianan Haris yang juga berserakan. Sahmat bersyukur, meski di usia ke-27 tahun Haris masih suka bermain mobil-mobilan, tapi ia sudah bisa merawat celurit dengan benar, sebagaimana yang disarankan para pendahulu.

***

Haris sering tertawa keras. Tangannya mengayunkan kapal-kapalan baru yang besar. Kapalkapalan dengan warna eksterior dominan silver itu dilengkapi remot kontrol, tapi Haris tak bisa menggunakannya. Beruntung ia merasa kebahagiaannya tak terkurangi meski tak bisa menggunakan remot. Ia tetap mondar-mandir ke sana kemari, mengayun kapal-kapalannya, seolah sedang terbang, mulutnya meniru bunyi pesawat.

Sahmat mendekat, bermaksud turut merayakan kebahagiaan yang sedang diraih anaknya. Tekun bibirnya melinting senyum.

“Apa keinginanmu benar-benar tercapai berkat celurit itu, Ris?” tanya Sahmat tegas.

Haris bergeming, menoleh ke wajah ayahnya dengan tatap yang dingin. Berkedip lirih bagai kunang-kunang.

“Iya, Yah. Berkat celurit itu, keinginan Haris tercapai. Haris menukar celurit itu dengan kapal-kapalan ini kepada Pak Sirat,” ungkapnya enteng, membuat senyum di bibir Sahmat pudar seketika.

 

Gaptim, 04.18

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.

Arsip Cerpen di Indonesia