Celurit Lelaki Idiot

“Sejak dibuat, celurit ini sudah menghabiskan enam nyawa. Pokonya, celurit ini akan beringas menghabisi setiap yang dianggap musuh oleh pemiliknya,” tutur Sahmat kepada Haris, ia sedikit menggerakkan bola matanya ke samping, sambil menghirup napas panjang dan melepaskannya perlahan.

Haris menyimak dengan tatap mata kadang menjeling, sambil sedikit memiringkan kepala untuk menambah konsentrasinya. Tapi tak jarang pula ia abai pada cerita ayahnya, tatapnya alih pada mobil-mobilan yang ia pegang. Kemudian menjalankan mobil-mobilan itu ke tanah, meski dalam keadaan roda depan sebelah kanan patah. Mulutnya menderu, meniru suara mobil yang sedang melaju.

Di akhir cerita, Haris hanya punya satu kesimpulan. Bahwa celurit itu senjata sakti, bisa membuat pemiliknya mencapai apa yang diinginkan. Sedang Sahmat masuk ke dalam rumahnya dengan ragam kecamuk mengamuk dada, bibirnya rapat terkatup, dan matanya berlinang air mata.

***

Dengan sedikit membungkuk, Sahmat bisa mengatur pandangannya melalui lubang kunci. Ia bergerak dengan sangat hati-hati. Agar Haris tak tahu jika ia sedang diintip. Celurit itu gagah tergantung di tembok, tepat di atas Haris yang sedang bersimpuh, sepasang matanya yang lembap, fokus tertuju ke celurit itu. Bibirnya kering, berselaput putih tipis, bergetar pelan. Ada kata-kata yang ia ucapkan dengan nada sedih.

“Wahai celuritku yang sopan! Aku lebih suka kau diam. Aku tak ingin kau menumpahkan darah lagi. Aku hanya ingin kau jadi celurit dermawan yang bisa memberiku mobil-mobilan, burung-burungan dan mainan lainnya, karena hidup ini adalah untuk berbahagia, bukan untuk bertengkar,” Haris mengangkat sepasang tangannya ke arah celurit itu, seolah ia memohon agar keinginannya segera terkabul. Ia mengulang-ulang perkataannya sambil bungkuk-bungkuk hingga rambutnya menyentuh lantai.

Sahmat hanya bisa menguntai senyum dengan ulah anak idiotnya itu. Mengelus dadanya perlahan, sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok, mendongak ke plafon rumahnya, serasa tengah memikirkan sesuatu.

Lalu terdengar engsel pintu yang diputar, gesek pintu yang didorong, Haris keluar membawa mobil-mobilannya sambil terbahak-bahak, wajahnya berbinar. Matanya bening bagai selaksa kolam sehabis subuh.

“Sebentar lagi, impian Haris akan tercapai, Yah. Horeee!!” teriak Haris sambil melompat, sebelum akhirnya menepuk bahu Sahmat dengan sangat lembut.

“Impian apa, Ris? Tanya Sahmat singkat.

“Aku akan punya banyak mainan baru, Yah.”

“Dari mana akan kaudapatkan mainan itu?”

Arsip Cerpen di Indonesia