Mata saya menangkap keanehan dalam aliran sungai di depan saya, saya bangkit untuk memastikan apa yang saya lihat, antara percaya dan tidak, saya menerobos rumput kalanjana, menyeruak ke pinggir air— sepasang tangan yang tadi saya lihat mencoba melawan arus, kini muncul pula kepala, seorang perempuan muda, ia menatap ke arah saya— berpegangan pada pohon waru, saya mencoba menarik perempuan itu keluar dari air sungai. Perempuan yang sedang mandi atau mencuci di daerah yang lebih ke selatan mungkin terbawa arus ke sini. Ia memakai baju dan celana serba hitam, telah basah kuyup, rambutnya yang panjang menempel ke punggungnya; beruntung ia ditemukan oleh saya, bukan oleh lelaki tetangga saya yang gemar mengintip, atau lelaki-lelaki lainnya yang tidak bisa menahan nafsu mereka, karena perempuan di depan saya benar-benar cantik. Ia bukan perempuan dari daerah sekitar sini, wajahnya asing, mungkin tamu di sebuah rumah penduduk yang saya tidak tahu keberadaannya.
“Kamu siapa, kenapa sampai terseret arus ke sini?”
“Kita harus bergegas, mereka mengejar saya.” Ia berjalan menaiki tanggul sungai.
“Siapa yang mengejar kamu? Orang jahat atau bagaimana?”
“Serdadu-serdadu itu mengejar saya.” Ia berpaling menatap saya sejenak lalu berjalan lebih cepat, menaiki tanggul, melintasi kebun jagung. Saya mengejar perempuan itu.
“Kamu dikejar tentara?” Ingatan saya kembali ke masa konflik mendera daerah ini, ketika banyak tentara yang tertarik pada gadis-gadis kami, sebagian dari mereka menjadi gelap mata, ingin memangsanya tanpa belas asih.
“Aku dikejar serdadu Belanda yang mengepung markas kami.”
“Tunggu!” Saya menarik lengan perempuan itu di antara pohon-pohon jagung dengan rambut merah di ujung tongkolnya. “Kamu siapa?”
“Nyak Gambang, putri panglima.” Perempuan muda itu menatap saya, dan mata kami pun bertemu. Saya tidak ingin percaya pada apa yang saya lihat. Mungkin saya terpengaruh dengan salah satu cerpen realis magis Gabo. Saya tidak ingin melepaskan tangan perempuan muda itu, saya seret ia melintasi kebun jagung, melewati dua pohon rambutan sebelum sampai di halaman belakang rumah saya. Saya menyuruhnya mandi dan mengganti baju, tapi ia masih tidak percaya pada saya, lebih tepatnya ia tidak bisa percaya pada rumah saya dan pada benda-benda yang ada di dalamnya. Seperti saya yang juga belum sepenuhnya percaya dengan apa yang ia katakana. Ah, mungkin hidup saya memang tidak bisa jauh-jauh dari penyair, saya dipertemukan dengan seorang penyair, atau perempuan yang punya minat pada puisi, pertemuan saya terakhir dengan penyair perempuan, saya diminta naik gajah oleh perempuan penyair dari Siak. Tapi kali ini saya harus bertemu dengan perempuan yang punya minat pada keindahan bahasa yang datang dari abad yang lalu.