Saya terkejut mendengar penuturan perempuan yang mengaku bernama Nyak Gambang itu. Senyum tipis terlukis di bibirnya. “Ibuku tak pernah ragu pada dirinya sendiri. Ia akan mengusir serdadu Belanda yang ingin menguasai daerah kami dan ia benar-benar melakukan itu, bahkan setelah ayahku tertembak di Meulaboh. Kami mengalami kesulitan di hutan, berpindah tempat dari satu bukit ke bukit lainnya, membangun markas-markas kami, kemudian meninggalkannya begitu kami terdesak, tapi aku tak pernah melihat ibuku ragu.”
“Benarkah ibumu menjadi pemimpin untuk para lelaki?”
“Iya, ibuku memimpin mereka untuk mengusir penjajah.”
Tangan perempuan itu membuka tutup stoples biskuit yang saya hidangkan padanya. Air sungai pasti telah membuatnya kelaparan. Saya melihat ke dalam diri saya sendiri yang beberapa saat yang lalu mencoba mencari-cari kepingan Gabo dalam diri saya. Mungkin saya memang tidak yakin pada diri sendiri. Saya tak perlu menjadi seperti Gabo pun Kafka. Saya hanya perlu menjadi diri sendiri yang memperjuangkan segala sesuatu yang saya yakini sebagai kebenaran dan haruskah saya mengakui kehadiran perempuan putri Cut Nyak Dhien di depan saya sebagai kebenaran?
“Kenapa kamu menatapku begitu?”
“Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”
Ia berhenti mengunyah biskuit, kemudian menatapku. “Aku harus kembali, aku harus kembali, aku tidak bisa meninggalkan orang-orang di markas.”
“Bagaimana caranya kamu kembali?”
Perjalanan melintasi waktu hanya ada di dalam film-film.
“Kamu harus menolongku.”
Stephen Hawking baru saja mati. Orang satu-satunya yang mungkin bisa menjelaskan kejadian ini. Saya bermimpi bulan turun ke bumi bersujud di pematang-pematang sawah, bulan yang ternyata tidak berjumlah hanya satu itu. Saya bermimpi singa betina menatap saya penuh misteri atau lebih tepatnya merasa takut kepada saya, berbeda jauh dengan mimpi Simon Bolivar di masa akhir kejayaannya yang melihat seekor keledai masuk ke rumahnya dan memakan benda-benda yang ada di dalamnya.
“Baiklah aku akan menolongmu,” ujar saya kemudian. Bukankah Einstein telah mengakui bahwa imajinasi lebih berharga dari ilmu pasti? Saya memang bukan Sang Alchemis yang bisa mengubah barang menjadi sebongkah emas. Saya hanyalah seorang pendongeng yang baik. Stephen Hawking memang telah mati, tapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang pendongeng? Saya harus beterima kasih kepada Putri Cut Nyak Dhien sebelum mengembalikannya ke tempat seharusnya perempuan itu berada. ***
Ida Fitri, lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Tulisannya pernah terbit di berbagai media. Kumcer pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong (2017).