Saya tidak terlalu pintar untuk memahami teori-teori mekanika kuantum seorang Albert Einstein. Saya juga bukan orang yang memercayai percobaan-percobaan ilmuwan untuk menciptakan mesin waktu, tapi sosok di depan saya, perempuan muda yang sekarang memakai baju saya, adalah nyata adanya. Ia mengaku bernama Nyak Gambang, putri perempuan besar yang beberapa waktu lalu terlintas dalam pikiran saya, hanya saya tidak boleh memercayai begitu saja apa yang dikatakan perempuan itu. “Kamu lapar?” saya menawarkan stoples biskuit pada perempuan itu.
Tetapi Nyak Gambang tidak menyentuh sedikit pun stoples tersebut. Lagi ia memandang saya, “Aku mencemaskan Ibu. Serdadu-serdadu Belanda sangat banyak berdatangan. Ibu menyuruhku pergi bersama Sang Penyair.”
Semua penonton film Cut Nyak Dhien tahu scene itu, jangan mau tertipu. “Siapa nama penyair yang kamu maksud?”
Perempuan itu menggeleng-geleng kepala. “Tidak ada yang tahu nama lelaki itu, ia datang ke markas, mengikuti kami, menghibur dengan syair-syair yang membangkitkan semangat.”
Siapa saja bisa memberikan jawaban seperti itu. “Benarkah orang-orang begitu mematuhi ibumu? Benarkah ibumu memimpin pemberontak melawan Belanda, bukan hanya simbol, sementara Pang Laot-lah otak pemberontak yang sesungguhnya?” Saya mengajaknya berbicara di ruang duduk rumah saya.
Perempuan muda itu bangkit dari tempat duduknya, matanya menyala. Ia memegang kerah baju saya. Butuh beberapa lama untuk menenangkannya kembali dan meyakinkan dirinya bahwa ia sudah tidak berada di tahun ketika ia melarikan diri dari para serdadu Belanda itu. Saya menunjukkan pesawat TV yang berada di ruang duduk pada perempuan muda itu, menerangkan cara kerjanya sebagai benda yang belum pernah dilihat sepanjang hidupnya. Ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya melihat gambar orang-orang yang bergerak serta berbicara di layar TV.
“Kenapa kamu begitu meragukan ibuku?” Ia menyembunyikan kegugupannya dengan menanyai saya.
“Entahlah, aku melihat perempuan-perempuan di sekitarku saat ini, mereka selalu tunduk kepada para lelaki, mereka juga mengatakan seorang perempuan tidak boleh menjadi pemimpin.”
“Kupikir kamu bukan meragukan ibuku. Kamu sedang meragukan dirimu sendiri.”