“Akrobat,” salah seorang di antara mereka, sepertinya yang ditunjuk kawan-kawannya sebagai juru bicara, menjawab. Suaranya gemetar. Enam lelaki lain menyeka kening.
“Kalian akan gagal,” kata lelaki berkemeja putih berdasi kupu-kupu. “Aku tahu bahkan sebelum kalian memulai. Kenapa kalian tidak pulang saja?” tambahnya.
“Kau jahat sekali,” perempuan di balik meja menyahut. Namun wajahnya menunjukkan ekspresi menahan geli. Dan selarik senyum menghias bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. “Mereka harus melakukannya dulu kan? Itu peraturannya.”
“Terserah merekalah. Aku hanya ingin mengatakan usaha mereka akan sia-sia belaka. Hayo…, segeralah mulai.” Lelaki berkemeja putih berdasi kupu-kupu menyandarkan punggung ke sandaran kursi setelah membanting beberapa lembar kertas ke atas meja.
Sebelas lelaki itu kembali membungkukkan badan bersama-sama. Mereka kemudian memencar dan keluar dari panggung. Lima detik kemudian, empat di antara mereka masuk dari sisi kiri panggung kembali seraya menggotong trampolin besar. Empat yang lain menggotong trampolin sama besar dari sisi kanan panggung. Lantas, tiga sisanya berlari, dua dari sisi kiri dan satu dari sisi kanan, dan langsung meloncat ke atas trampolin. Tubuh mereka melenting tinggi. Mereka berjempalitan, berputar-putar, dan kembali jatuh dengan kaki terlebih dulu di trampolin lantas melenting kembali. Delapan laki-laki lain segera pula turut dalam permainan.
Dua trampolin itu, meskipun berukuran besar, nyatalah berkesan terlalu sempit untuk sebelas orang yang melenting-lenting di atasnya, berjempalitan, berputar-putar, untuk kemudian jatuh ke atas trampolin dan kembali melenting-lenting. Mereka melompat dan mendarat di trampolin lain, bertukar posisi. Kadang-kadang mereka tampak seperti akan bertabrakan sewaktu melenting di udara dan menyeberang ke trampolin lain.
Penonton yang memadati kursi di belakang tiga orang yang duduk di belakang meja panjang tak mampu menahan teriakan. Para penonton itu kaget. Mereka takut sebelas orang itu bertumbuk dan mendapat celaka. Namun sebelas orang itu menunjukkan keterampilan memukau. Mereka lincah. Lentingan mereka kian tinggi, makin tinggi, hingga di satu titik, lentingan mereka nyaris menyentuh langit-langit panggung. Beberapa penonton kembali berteriak tertahan. Dan begitu sebelas orang itu mengakhiri pertunjukan, penonton bertepuk tangan. Panjang. Dan menggema.
Sebelas orang itu berdiri terengah-engah. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat pakaian yang sudah begitu ketat, tampak lebih ketat lagi.