Pencarian Bakat

Perempuan di balik meja berkata: Kalian seharusnya menyadari penampilan kalian hanya menghasilkan banyak keringat. Karena itu, kalian seharusnya memakai deodoran lebih banyak lagi.

Perempuan itu mengibas-ngibaskan tangan kiri di depan hidung, sedangkan tangan kanan sibuk menulis entah apa di kertas yang berserakan di depannya.

Lelaki berjas hitam di balik meja berkata: Anak-anakku empat. Yang terbesar berusia dua belas tahun dan yang paling kecil empat tahun. Mereka bisa melompat lebih indah daripada kalian, bahkan tanpa bantuan trampolin.

Lelaki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu di balik meja berkata: Lumba-lumba juga bisa melompat seperti itu. Yang kami mau sesuatu yang luar biasa. Bukan sesuatu yang biasa-biasa saja seperti itu. Kalian tahu, jika kalian melompat, bukan lompatan yang asal tinggi yang kami mau. Kami mau lompatan yang bisa membuat pelompat meninggalkan kenyataan.

Sebelas lelaki di atas panggung menundukkan muka. Penonton bersorak huuu… panjang dan bergema. Sebelas lelaki di panggung tak tahu kepada siapa sorakan huuu itu tertuju; pada mereka atau komentar tiga makhluk yang seolah-olah terlahir tanpa hati nurani itu.

Mereka beringsut. Hendak keluar dari panggung. Perempuan di balik meja berkata: Kalian memang tidak layak. Kalian bahkan tak tahu sopan santun. Begitukah cara orang tua kalian mengajari kalian?

Sebelas laki-laki di atas panggung berhenti. Si juru bicara tampak hendak menyampaikan sesuatu. Namun suaranya tenggelam ke dalam kerongkongan dan hanya meninggalkan desisan panjang di ujung lidah.

Perempuan di balik meja meneruskan: Kalian seharusnya mengucapkan terima kasih terlebih dahulu sebelum pergi.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupukupu menambahkan: Lihatlah. Seperti kubilang, mereka benar-benar memuakkan. Mereka bahkan tak menghargaimu yang membela mereka tadi.

Laki-laki berjas hitam mengibaskan tangan. Dan sebelas laki-laki keluar dari panggung. Lunglai.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupukupu berkata: Apa-apaan ini? Kenapa kita berada di sini dan disuguhi tumpukan sampah seperti ini? Benar-benar menyebalkan.

Arsip Cerpen di Indonesia