Pencarian Bakat

Laki-laki berjas hitam mengafirmasi: Aku setuju. Aku hampir-hampir tak sanggup menahan muntah. Untung aku ingat tadi aku menghabiskan tiga ekor lobster asam manis. Dan itu tidak murah.

Setengah menit kemudian, di atas panggung, berdiri seorang perempuan. Rambutnya yang hitam tergerai, menjuntai hingga betis. Ia mengenakan celana kain hitam. Kemeja hitam. Sepatu hitam. Celak mata hitam. Gelang dan kalung hitam.

Perempuan di balik meja berkata: Untuk seorang perempuan, selera fashion-mu benarbenar payah.

Perempuan di balik meja berdiri. Memamerkan diri sendiri. Gaun hijau dengan manik-manik berkilauan membungkus tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggul, menonjolkan sepasang payudara yang agung.

Laki-laki berjas hitam berkata: Benar-benar tak ada harapan.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupukupu berkata: Sampah lain lagi.

Laki-laki berjas hitam berkata: Apa yang akan kaulakukan? Cepatlah, kami tidak punya waktu seharian menunggumu melakukan hal bodoh. Mari kita akhiri dengan cepat.

Perempuan di atas panggung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menyapu tiga pengadil tak bercela di balik meja, menyapu para penonton. Cahaya lampu panggung yang mengguyur tubuhnya membuat semua orang di sana tahu: matanya berkaca-kaca.

“Aku hanya meminta kalian semua mendengarkan bunyi tepukan tanganku,” kata perempuan itu. Lantang. Suaranya bergema.

Terdengar suara tawa menyambut ucapannya. Suara tawa dari perempuan di balik meja. Suara tawa dari lelaki berjas hitam. Suara tawa dari lelaki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu. Suara tawa dari beberapa penonton.

Sebelum suara tawa berakhir, perempuan di atas panggung telah bertepuk tangan. Satu kali saja. “Dan kalian akan tertidur,” katanya dengan kelantangan tak berubah.

Ruangan itu hening. Semua, kecuali perempuan di atas panggung, telah jatuh dalam tidur yang dalam. “Kalian akan bermimpi menjadi sebatang pohon. Kalian akan terbangun setelah aku pergi dari sini,” tambahnya.

Lantas ia pergi. Suara langkah kakinya memecah keheningan. Tepat ketika ia keluar dari panggung, seisi ruangan terbangun dari tidur.

Dan mereka, penonton dan tiga orang di balik meja, terkejut mendapati betapa rambut mereka telah berubah menjadi dedaunan. Dedaunan lebat berwarna hijau.

Dari sela-sela kerimbunan daun itu muncul kepala seekor ular yang mendesis-desis dan menjulurkan lidah yang bercabang. (44)

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Arsip Cerpen di Indonesia