“Uang itu bukan untukku, tapi untuk anak kita. Aku enggak ada hubungan apa-apa dengan Maksan.” Maimunah selalu mengatakan ini pada Darkum. Penjelasan istrinya ini malah dibalas dengan tamparan oleh Darkum.
“Pasti dia jatuh hati padainu dan kau jatuh hati juga sama dia. Untuk apa dia memberi uang kepada anak kita kalau bukan itu tujuan utamanya. Ingat itu!” Darkum menghempaskan tubuhnya pada kursi kayu dengan cat biru tua yang sudah mengelupas. Napasnya tersengal-sengal. Ia memandangi wajah istrinya. Maimunah menunduk, mengatur laju napasnya.
“Sungguh, demi langit dan bumi aku rela mati saat ini jika aku benar berbuat serong. Aku tidak seperti yang kau tuduhkan.” Maimunah mengucapkannya dengan suara bergetar. Air matanya menggenang di kedua pipi tirusnya.
Sesungguhnya Darkum merasa disepelekan sebagai seorang suami sekaligus kepala rumah tangga. Pemberian uang dari Maksan yang selalu dilakukannya hampir tiap hari telah mencabik-cabik harga diri Darkum. Dipikirnya Darkum tak sanggup menafkahi anak dan istrinya. Terlalu sering telinga Darkum mendengar para tetangga menyebutnya sebagai laki- laki tak bertanggung jawab.
Para tetangga pun kerap mengatakan Darkum tak pantas menjadi suami Maimunah dikarenakan dua anaknya menggantungkan uang jajan sekolah dari Maksan. Terbelah dada Darkum mendengar omongan tetangganya mengalir dari waktu ke waktu, dari hari ke hari. Tak perah habis. Selalu diulang-ulang.
Keinginan Darkum untuk menemui Maksan selalu urung ia lakukan. Darkum melihat celurit yang digantung sungsang di balik pintu. Dipegangnya celurit serupa bulan sabit itu. Ingin sekali ia menantang Maksan, tapi kendur nyali Darkum saat diingatnya siapa sesungguhnya Maksan itu.
Maksan dikenal sebagai laki-laki bajing paling ditakuti di Tang-Batang. Sudah kesohor sampai desa sebelah kekebalan tubuh Maksan. Tak pernah sekali pun laki-laki itu kalah setiap kali carok. Darkum berpikir ulang, menimbang-nimbang pikirannya sendiri perihal apa perlu persoalan itu diselesaikan dengan celurit.
Darkum meletakkan kembali celurit itu. Ia tidak berhasrat, lebih tepatnya tak punya nyali untuk menyambangi rumah Maksan. Lagi pula, batin Darkum, untuk apa membela mati-matian perempuan yang mengkhianati cintanya. Lebih baik bercerai ketimbang mempertahankan sebuah hubungan yang sudah temoda oleh kotoran laki-laki lain.
Hujan deras turun dari langit petang yang temaram kala itu. Darkum mengucap cerai pada Maimunah di bibir pintu. Terjatuh air mata Maimunah ke lantai. Ia berusaha menggapai tubuh Darkum, coba menariknya ke dalam rumah. Meminta Darkum untuk membatalkan kalimat cerai yang baru saja diucapkannya.