Perempuan Pesisir

Tertutup mulut Darkum. Ia membanting tangan istrinya yang memegang ujung bajunya. Darkum gegas melangkah menembus hujan yang menerpa tubuh ringkihnya. Teriakan Maimunah mendayu-dayu dilumat suara hujan yang kian deras. Gelegar petir menyambar. Darkum hilang di ujung jalan.

Dua bulan kemudian, Maimunah memilih berjualan ikan. Ia membeli ikan-ikan itu dari seorang nelayan di pesisir Legung. Kecantikan berbinar-binar di wajah Maimunah. Kerap kali beberapa nelayan tak mengambil sepeser pun uang dari Maimumah. Hal ini sering dilakukan para pelaut itu semata-mata karena kekagumannya pada kecantikan Maimunah.

Sejak Maimumah menjadi seorang janda menjadikan siapa pun leluasa untuk sekadar menggodanya. Siapa pun mengetahuinya bahwa dulu Maimumah seorang kembang di desa Tang-Batang. Tidak pernah menghilang gurat-gurat kecantikan di wajah Maimunah. Ia tetap menjadi perempuan pesisir paling menawan sampai saat ini.

Terdengar bisik-bisik di antara para nelayan. Pembicaraan itu bermuara pada perihal ketololan Darkum yang menceraikan Maimunah. Bau amis ikan menari-nari di atas udara. Maimunah berjalan dari utara. Ia memang selalu datang sepagi ini untuk membeli ikan pada nelayan-nelayan itu.

“Istri masih cantik kok dicerai.”

“Siapa yang mau mempertahankan perompuan serong seperti dia.”

“Siapa bilang Maimunah selingkuh?”

“Semua orang sudah mengetahuinya.”

“Ah, itu tidak benar. Maksan sering kasi uang sama anak Maimunah. Nah, si Darkum cemburu. Dikiranya selingkuh. Padahal Maksan memberi uang semata-mata karena kasihan pada dua anaknya itu. Darkum kan lebih banyak menganggur.”

“Lalu?”

“Darkum merasa disepelekan. Merasa tidak dihargai sebagai suami Seolah-olah Maimunah menggantungkan hidupnya pada Maksan.”

“Tapi memang kurang baik menerima pemberian lali-laki lain seperti itu, terlebih saat suami terpuruk seperti itu. Laki-laki mana pun akan merasa disepelekan.”

“Terlebih Maksan memang pernah naksir Maimunah.” Seorang nelayan, laki-laki berewok berkata lantang sampai didengar oleh Maimunah yang sudah berdiri di dekat sampan. Mendadak wajah laki-laki itu seperti selembar kain kafan. Maimunah menanggapinya dengan sebaris senyum

***

Arsip Cerpen di Indonesia