Perempuan Pesisir

Selalu setiap hari, setelah mengantar dua anaknya sekolah. Maimunah akan berangkat ke laut membeli ikan dari para nelayan untuk dijual kembali. Ini yang bisa dilakukan Maimunah supaya dapur tetap mengepul. Dingin pagi menusuk tulang-belulang. Sampir motif liris dikenakan perempuan itu.

Maimunah baru saja melangkahkan kakinya yang mengenakan sandal jepit. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Maksan. Pohon siwalan ditingkahi angin. Berdebar dada Maimunah melihat laki-laki itu berjalan ke arahnya. Ada apa ini? Batin Maimunah sambil lalu mempersilakan Maksan dudukdi teras rumah.

Maksan mengisap batang rokoknya. Maimunah melirik jam dinding. Terdengar bersahutan dengan degup jantungnya yang tak karuan. Maksan mengatakan, lembut suara laki-laki itu terdengar, bahwa maksud kedatangannya tak lain adalah hanya untuk melamar Maimunah sebagai istrinya. Mendengar ungkapan itu, jantung Maimunah seakan mau lepas dari tangkainya.

Dengan mengambil napas dalam-dalam, Maimunah menjawab, “Maafkan aku. Aku belum punya keinginan bersuami lagi.”

“Kamu tidak perlu jualan ikan lagi jika sudah jadi istriku. Anak-anakmu juga aku jamin kehidupannya. Dan kamu sendiri tinggal duduk manis di rumah. Apa kamu tidak mau menerima lamaran ini?” Maimunah hanya menggeleng. Maksan menelan ludah.

“Aku lebih mencintai pekerjaan sebagai penjual ikan, ketimbang memilih jadi istrimu. Karena menjadi istrimu sama artinya membenarkan dugaan orang-orang, termasuk Darkum bahwa aku selingkuh denganmu.”

Beberapa saat keduanya tendiam. Hening. Maimunah kembali berkata setelah ia melihat jam dinding menunjukkan angka tujuh pagi, “Aku perempuan pesisir. Tak pantas jadi istri seorang juragan tembakau sepertimu.”

Maksan bangkit dari duduknya pelan-pelan. Ia pulang dengan hampa harapan. Segera mungkin Maimunah gegas berjalan untuk sampai di pesisir Legung. Sepanjang jalan Maimunah berandai-andai, seandainya Darkum tahu bahwa penolakannya barusan dilakukan semata-mata tak lain karena ia masih menyimpan segumpal cinta kepada Darkum.

Arsip Cerpen di Indonesia