Satu Nusa Satu Bangsa

Oleh Tyas KW (Kompas, 08 Juli 2018)

Satu Nusa Satu Bangsa ilustrasi Regina Primalita - Kompas
Satu Nusa Satu Bangsa ilustrasi Regina Primalita/Kompas

“Wah, sudah kompak. Suara kalian sudah terdengar berpadu dengan merdu. Ayo, kalian istirahat dulu,” ujar Kak Azka.

“Asyik. Akhirnya aku bisa minum, tenggorokanku sudah kering, Kak,” sahut Amik. Ia sedang berlatih bernyanyi bersama dua teman sekelasnya, Ivonne dan Komang, untuk acara pentas seni di sekolah, sebuah SD Negeri di kawasan Wonosari, Surabaya.

“Namun, ada tugas selama beristirahat,” kata Kak Azka yang mengajar ekskul seni suara di sekolah tersebut.

“Yaaaah,” kata Amik kecewa, hampir berbarengan dengan Ivonne dan Komang.

“Tugasnya seru, kok. Kalian harus menentukan pakaian yang akan dipakai untuk pentas seni,” kata Kak Azka.

“Siap, Kak,” jawab Amik.

Tak lama kemudian, Amik, Ivonne dan Komang mulai sibuk memikirkan baju seragam yang cocok untuk mereka.

“Aku tahu! Pakai baju seragam sekolah saja,” usul Amik.

“Tidak seru, Amik,” sahut Ivonne.

“Iya, nanti kurang menarik,” kata Komang. “Pakai baju Bali saja, bagaimana? Warnanya cerah dan sapuhnya diikat di pinggang, jadi tidak repot.”

“Aku usul baju Salu. Baju ini ada hiasan emas yang cantik di dadanya. Baju Salu itu baju dari Sulawesi Utara,” ujar Ivonne.

“Bagaimana kalau baju Jawa yang bahannya beludru? Itu cantik juga,” sahut Amik.

Tiba-tiba terdengar suara Kak Azka. “Istirahat selesai. Ayo latihan lagi!”

Amik, Komang, dan Ivonne lalu mulai membentuk barisan kembali.

“Oh iya, sebelum mulai, Kakak ingin tahu, apa sudah ditentukan pakaian pentasnya?” tanya Kak Azka.

“Belum, Kak,” jawab mereka kompak dengan muka lesu.

“Ayo, semangat. Nanti juga ketemu. Ayo mulai! Satu, dua, tiga …” ujar Kak Azka.

Mereka bertiga lalu mulai bernyanyi.

“Satu nusa…. Satu bangsa…. Satu bahasa kita….”

Mereka bertiga menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” dengan khidmat sampai selesai.

Arsip Cerpen di Indonesia