Dia muncul dengan sapuq-nya yang rapi, mungkin habis digilas setrika arang. Sang Ibu tak berkomentar banyak di atas tikar waktu si gagah menyalaminya. Dia tersenyum tak kentara hingga lebih nampak sekedar untuk memenuhi syarat saja, dan kemudian seperti tak ambil pusing. Si lelaki pun seperti tak merasai sesuatu lantas mengambil tempat di sekitarnya.
“Tadi sempat tiyang menjangkau sirih di pasar,” ucapnya sambil mengeluarkan bawaannya. Bungkusan itu berpindah tempat. Perempuan itu melihat ke arahnya tak sampai sekejap dan ketenangan yang disusunnya sedari tadi mulai terancam. Selalu seperti itu bila ia di depannya. Perempuan tua itu selalu berhasil mengganggu ketenangannya.
Untunglah Seri sudah keluar lagi membawa cerek berbahan kuningan yang biasanya dipakai menyuguhkan air putih. Ditolehnya sekilas sambil mengedipkan sebelah mata. Dibalas sedikit senyum. Hatinya bersorak tapi masih tetap hati-hati, kuatir ada gerakannya tertangkap mata perempuan tua di sebelahnya.
Nyale memang membawa berkah dan keberuntungan baginya. Ia, pemuda miskin tak punya kerja penopang hidup hari ini bisa bertemu Seri Banun dan makan bersama dengan Inaq-nya yang sudah kesohor paling cepat berubah kasar kalau ada laki-laki yang mencoba mendekati putrinya.
Seri Banun si bunga kampung Gerupuk. Sepanjang pantai siapa tak kenal akan ia yang membuat gadis-gadis pesisir merasa iri dan diam-diam mengagumi kemolekannya. Ia baru lima belas tahun dan punya bulu halus di sepanjang betisnya yang seperti mentimun. Kulit langsatnya seperti ditakdirkan menjadi teman setia pasir-pasir putih yang terhampar sepanjang pantai. Dia memang baru lima belas, tapi sesuatu yang membayang di balik baju lambung-nya yang ketat sudah bercerita banyak. Ia seperti pesisir yang menunggu perahu pelaut singgah menghabiskan mimpi. Terlebih kalau tubuhnya sedang mengayun mengikuti suara tetabuhan jangger.
Pemuda itu berniat ambil ancang-ancang pulang waktu perempuan itu mengeluarkan suaranya yang terdengar parau. “Jangan pulang dulu, Bah, temani Seri sebentar. Inaq mau ke bawah.”
Bah merasakan ada yang bergerak-gerak dalam dadanya. Mungkin ini jawaban doanya sedari malam sampai pagi sambil menangguk nyale di pesisir. Seri Banun menghampirinya dan mereka berpandang-pandangan. Seperti ada badai bergulung-gulung mengalir dari matanya. Bah tahu, gadis itu sedang belajar menaksir-naksir kedewasaan.
***