Bah berdiri melepas pandang ke seluruh penjuru angin. Pantai, laut, ombak yang menyanyi, burung camar, gundukan-bukitan tanah, dan pohon-pohon kelapa yang menjulang. Ia berdiri di atas tanah yang telah turun-temurun menopang hidup keluarga besar kakeknya.
Bagi penghuni pesisir pantai ini, laut itu adalah rahmat Tuhan yang memberikan berkah. Disanalah mereka bergantung saat angin tenang. Jika angin sedang tak tenang dan menampar apa saja yang dijumpainya, pohon-pohon kelapa dan tanaman-tanaman satu musim itulah yang memberi peluang untuk tetap dapat hidup.
Ia mendengar desas-desus yang semakin jelas itu. Minggu lalu penduduk dikumpulkan di kantor desa untuk membubuhkan tanda tangan dan cap jempol pada lembaran kertas kosong. Berita cepat menyebar, lahan pinggir pantai berpasir putih sebesar merica itu akan diambil pemerintah untuk lokasi pariwisata.
Ia tahu kegundahannya sendiri seperti halnya ia mengerti pentingnya tanah itu untuk keluarganya dan keturunannya nanti. Cuma ini yang ada, lain-lain tak ada, tidak boleh sampai tak ada lagi. Kami mau apa nanti?
Siapa yang bisa menjanjikan anak-anakku nanti masih bisa bertahan hidup di sini. Kami sudah bertahun-tahun di sini menjaring ikan dan menyiapkan kerbau menjejak tanah ini. Apa yang akan kami lakukan besok-lusa. Adakah jaminan ini bukan kesia-siaan dan harapan indah yang kosong?
Bah mendengar beberapa orang mau juga menyerahkan tanahnya. Memang bayarannya cukup menjanjikan, bisa bangun rumah yang lebih bagus, bisa dipakai beli macam-macam. Sebagian lagi meski merasa terpaksa, namun mau apa lagi, di situ banyak bapak-bapak yang berseragam itu.
Tapi ia lebih kuatir pada bayang-bayang kehidupan suram yang dirasanya mulai mengurung kampungnya secara perlahan. Mungkin saja mereka bisa membangun rumah yang lebih bagus hari ini, mungkin bisa membeli macam-macam atau naik haji. Tapi bagaimana seterusnya nanti? Ia tidak tahu apa yang akan mereka kerjakan bila angin mulai tak bersahabat sementara tanah mereka telah berpindahtangan.
Ketakutannya beralasan. Dua hari lalu, salak senapan menembus pagi yang beranjak siang. Beberapa petani yang pulang awal mengatakan, itu dialami mereka yang menolak menyerahkan tanahnya. Kalau hari ini ia tambah gundah, tidak lain karena di ujung petak tanah peninggalan bapaknya terpancang sebuah tanda. Di sana ada tulisan aneh yang sehari lalu belum pernah dilihatnya: “Milik PT”. Ia merasa wajar untuk merasakan gundah. Gundah untuk esok.
***