Jangan Jadi Pelari, Erina

“Ini, Mas. Mohon diterima. Anggap saja aku sudah menyewa novel ini. Tapi tolong biarkan aku selesaikan bacanya di sini, ya. Plis!” Kali ini dia menangkupkan tangan dan memelas. Setelah pikir-pikir kuterima uangnya, karena tak mau jadi tontonan orang lewat.

“Oke, aku terima dan catat ini sebagai sewa tak resmi. Siapa namamu?”

“Terima kasih, Mas! Aku Erina,” balasnya semringah.

Selanjutnya kubiarkan Erina tetap membaca di kios, bahkan kuberi dia sebuah bangku plastik. Dia terus membaca hingga tamat, bersamaan dengan waktu tutup kios jam empat sore.

Baca juga: Halaman Berstabilo Pink – Cerpen Iis Soekandar (Rakyat Sumbar, 07-08 Juli 2018)

Besok paginya, Erina kembali datang. Dia tak mempan dengan pengusiranku. Mau tak mau dari obrolan yang tercipta, sedikit demi sedikit muncul keakraban di antara kami. Aku jadi tahu bahwa dia duduk di kelas XII sebuah SMK, yang letaknya tidak berapa jauh dari kawasan Unsoed. Erina bercita-cita menjadi akuntan seperti jurusan yang diambilnya.

“Tapi kenapa kamu membolos terus, Erin? Bagaimana kalau kamu kena skorsing dari sekolah? Dan orangtuamu pasti sedih kalau tahu kelakuanmu,” tegurku di hari ketiga dia datang.

“Ah, Mas Pandu nggak tahu masalahku, sih,” sahutnya sengit.

“Orang dewasa cuma bisa ngomong tapi nggak bisa ngertiin!”

“Lho, kamu nggak cerita apa-apa, kok!” Setelah kukorek-korek, mau juga cewek itu bercerita. Ternyata dia hanya tinggal dengan ibunya, yang bekerja sebagai penjahit. Bapaknya sudah meninggal sejak Erina masih SMP. Karena itulah ibunya bersikap amat keras. Bahkan cenderung memaksakan kemauan. Termasuk menginginkan Erina langsung menikah setamat sekolah.

“Lho, kok begitu?” heranku.

“Iya, Mas. Rupanya Ibu punya hutang pada seseorang. Dan sebagai balasan setimpal Ibu berniat menjodohkanku dengan orang yang seumuran bapakku itu,” cewek itu bergidik ngeri.

“Makanya aku bingung. Cerita sama teman, eh malah disuruh nurut saja.”

Aku termenung sesaat. “Mas Pandu pikir langkahmu ini tetap salah. Jangan jadi pelari, Erina, tapi berhenti dan hadapi.”

“Tapi aku harus bagaimana, Mas?”

“Begini, mintalah bantuan mediasi dari guru BK dan kerabat dekatmu. Kamu masih punya kakek-nenek atau paman-bibi bukan? Orang dewasa seperti mereka tentu bisa bicara pada ibumu. Asal kamu bersikap jujur, dan terbuka.”

Arsip Cerpen di Indonesia