Erina tercenung lama. Tak lama dia pamit meskipun jam dinding baru menunjuk pukul satu. Saat kutanya, katanya dia mau pergi ke suatu tempat. Aku hanya bisa menghela napas menatap punggungnya yang menjauh.
Esoknya, hingga tengah hari pun Erina tak muncul di kios. Aku setengah bersyukur karena ada kemungkinan nasihatku kemarin mengena. Namun sisi hatiku yang lain pun merasa sedikit kehilangan. Mungkin karena aku mulai terbiasa mengobrol dengan Erina? Entahlah.
“Mas, dari tadi lihat jam sama nengok-nengok ke pintu. Lagi nunggu siapa?” tegur seorang pelanggan. Di tangan mahasiswa itu sudah tergenggam dua buah komik yang hendak diserahkan padaku.
“Eh, nggak nunggu siapa-siapa. Maaf, ya. Ini mau dipinjam?” Pertanyaanku dibalas anggukan. Aku berusaha kembali berkonsentrasi pada pekerjaanku. Sementara pikiran tentang Erina harus disingkirkan dahulu.
***
Baca juga: Gempa dan Tsunami di Kepala Kami – Cerpen Raflis Chaniago (Rakyat Sumbar, 06-07 Januari 2018)
Dua minggu kemudian barulah aku mendapatkan jawabannya.
Seorang cewek berkacamata mendatangiku di kios sore hari. Tepat menjelang waktu tutup kios. Sebelum aku bertanya, dia berkata bahwa dia adalah teman sekolah Erina.
“Mas Pandu, saya dititipi surat. Sama permintaan maaf karena Erina nggak bisa datang langsung ke sini,” cerocosnya menyodorkan sepucuk amplop.
Dalam hati aku sempat merasa geli sendiri. Surat di zaman ini? Oh iya, memang antara aku dan Erina belum pernah saling bertukar nomor ponsel. Di bagian muka amplop tertera tulisan ‘Untuk Mas Pandu’.
“Sama satu lagi, Mas. Kata Erina terima kasih atas bantuan Mas Pandu,” tambah cewek itu lagi. “Saya permisi, ya.”
Aku menggumamkan ucapan terima kasih kembali yang tak ditanggapi teman Erina itu. Keinginanku menutup kios segera kutunda. Aku lebih penasaran pada isi suratnya. Usai membaca tulisan tangan Erina hingga akhir, hatiku diliputi kelegaan. Erina telah mengikuti saranku, dan dia berhasil.
Masalahnya selesai. Keluarga dari pihak Erina bersedia membantu ibunya melunasi hutang. Sedangkan pihak sekolah yang diwakili guru BK, telah berbicara pada ibunya tentang keinginan Erina meraih cita-cita.
Aku tercenung. Berapa banyak remaja di luar Erina yang juga memendam masalah namun memutuskan lari? Sungguh kasihan mereka. (*)