Rumah Kecil dengan Pintu Pagar Terbuka

Baca juga: Pergi ke Bukit – Cerpen Tjak S Parlan (Republika, 04 Juni 2017)

“Kau sudah mengganti airnya? Hati-hati menaruh bunganya.”

Gadis kecil itu memasukkan tangkai-tangkai bunga itu ke dalam toples. Ia tampak senang melihat bunga-bunga itu telah tersusun rapi. Setiap beberapa hari sekali, perempuan itu akan mengganti bungabunga itu dengan yang baru—dan gadis kecil itu selalu senang melakukannya.

Saat perempuan dan gadis kecil itu memasuki rumah, sebuah pick up tua sedang menepi di kejauhan. Seorang laki-laki berwajah tirus dan jangkung turun dari pick up dan mulai menggerutu.

“Kenapa seseorang harus menyulitkan dirinya tinggal di tempat seperti ini. Huh!”

Siang mulai tinggi dan laki-laki itu bergegas menyusuri jalan setapak menuju sebuah rumah yang sendirian di sisi bukit itu.

***

Laki-laki itu mengempaskan dirinya di kursi kayu. Seraya menggerutu, ia menggoyang-goyang pemantik di tangannya. Setelah ke sekian kali, pemantik itu baru bisa menyala. Laki-laki itu tampak lega dan mulai membakar sebatang rokok yang terselip di bibirnya.

“Sial!” katanya kemudian. “Tempat ini memang sejuk. Tapi kota terlalu jauh. Aku harus menempuh jarak berkilo-kilo dengan pick up tua peninggalan suamimu itu.”

Perempuan itu tersenyum. Lalu menuangkan kopi hangat ke dalam cangkir.

“Kau tak boleh mengeluh seperti itu,” katanya. “Suatu saat ia akan datang, dan mengambil pick up itu darimu.”

“Kau yakin ia masih ada?”

Perempuan itu bergeming. Laki-laki itu memain-mainkan asap rokoknya ke udara.

“Maksudku, kau yakin ia akan datang?”

“Aku bahkan merasa saat ini ia sedang mengawasi kita,” jawab perempuan itu.

Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia teringat apa yang diceritakan perempuan itu pada suatu hari—bahwa sesuatu yang tidak masuk akal telah menimpa suaminya.

“Tak masuk akal!” gerutu laki-laki itu tiba-tiba. “Menyebarkan aliran sesat? Tak masuk akal!”

Laki-laki itu teringat, dulu-dulu ia pernah sering datang ke tempat itu, terutama ketika hari Sabtu dan Minggu. Ia senang datang di hari-hari itu karena ingin melihat anak-anak kampung yang sedang berlatih seni peran—anak-anak itu menyebutnya sebagai bermain drama atau sandiwara. Laki-laki itu tidak pernah menyangka bahwa kawan dekatnya telah berhasil membuat anak-anak di daerah itu ketagihan bermain teater.

Arsip Cerpen di Indonesia