Rumah Kecil dengan Pintu Pagar Terbuka

“Ia selalu bermimpi memiliki sebuah sanggar, agar bisa mengajari anak-anak bermain drama. Itulah kenapa ia bersikeras membeli tanah di bawah bukit ini,” kata perempuan itu.

“Kau yakin, ia benar-benar tak terlibat dalam sebuah aliran tertentu?”

Perempuan itu mengernyitkan dahi, lalu mengibaskan tangannya.

Baca juga: Bero dan Keluarganya – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 22-23 Juli 2017)

“Kami memang agak beda dengan kebanyakan orang di daerah ini. Tapi kukira, itu hanya perbedaan cara mencintai Tuhan saja. Di mana letak salahnya?” jawab perempuan itu.

“Ya, aku juga tahu soal itu. Tapi maksudku …”

Laki-laki itu tidak melanjutkan kata-katanya. Perempuan itu berjalan hingga keluar pagar halaman. Untuk beberapa saat, ia tampak sedang mencari-cari sesuatu. Kemudian ia melambaikan tangan. Gadis kecil itu—yang sedang asyik bermain di tengah padang ilalang—membalas lambaiannya. Tidak berapa lama gadis kecil itu berlari-lari menujunya seraya memamerkan bunga-bunga ilalang yang telah dipetiknya.

“Cepatlah mandi. Kita akan ikut paman ke kota,” kata perempuan itu.

Gadis kecil itu menatap laki-laki itu sejenak. Ia tersenyum dan laki-laki itu membalasnya dengan senyuman ramah.

“Sudah semakin besar kau, Nak… dan cantik seperti ibumu,” sapa laki-laki itu.

Gadis kecil itu bertingkah seperti seorang dewasa yang tersipu malu dan berjalan ke dalam rumah. Saat gadis kecil itu telah berlalu, perempuan itu mendekat dan kembali duduk di dekat laki-laki itu. Laki-laki itu mengenggam tangan perempuan itu. Perempuan itu tidak menampakkan reaksi yang berlebihan.

“Aku mengatakan hal yang sebenarnya,” bisik laki-laki itu.

“Bahwa ia cantik seperti ibunya?”

“Iya. Sepertimu.”

Lalu hening sejenak. Mereka saling pandang. Hanya berpandangan.

“Apa yang kau ceritakan tentang ayahnya?”

Baca juga: Daun-daun Beluntas – Cerpen Tjak S Parlan (Media Indonesia, 28 Mei 2017)

Laki-laki itu merapatkan genggaman tangannya. Perempuan itu bergeming. Namun dalam benaknya, ia belum sepenuhnya bisa melupakan kejadian malam itu—ketika sekelompok orang membuka paksa pintu pagar rumahnya. Orang-orang itu telah menggelandang suaminya karena dituduh sebagai sumber petaka di daerah itu. Mereka meniupkan desas-desus bahwa anak-anak di daerah itu telah dirasuki sedemikian rupa oleh ajaran tertentu sehingga lebih suka berkunjung dan bermain ke rumahnya ketimbang mendatangi suatu tempat yang telah disiapkan untuk belajar agama. Mereka bahkan tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya. Satu-satunya alasan kenapa dirinya tidak turut digelandang adalah karena ia tengah mengandung benih terkasih dari suaminya. Belakangan ia tahu, bahwa daerah itu sudah lama dijadikan sebagai proyek percontohan—dan seseorang yang sedang berebut pengaruh, tidak mau terusik oleh siapapun, apalagi yang dianggap tidak sealiran.

Arsip Cerpen di Indonesia