Rumah Kecil dengan Pintu Pagar Terbuka

Baca juga: Riwayat Beduk – Cerpen Tjak S Parlan (Republika, 01 Juni 2014)

“Kalau ia muncul pada suatu hari, apa ia akan bahagia melihat anak itu?” tanya perempuan itu lirih.

“Aku berharap ia bahagia. Siapapun akan bahagia melihat anak itu, kan?”

Perempuan itu merasakan segaris nyeri yang menembus perutnya. Ia teringat pada suatu pagi ketika darah kental merembesi selangkangannya. Janin itu tidak bernyawa dan masih terlalu muda. Ia dan dokter di sebuah rumah sakit kota tidak bisa menyelamatkannya.

Setelah pagi yang naas itu, perempuan itu tinggal di kota. Nyaris setiap hari seorang laki-laki datang mengunjunginya. Bahkan ketika perempuan itu kembali ke tempatnya semula—di sebuah rumah kecil dengan pintu pagar terbuka—laki-laki itu tetap mengunjunginya. Kunjungan-kunjungan itu bisa membangkitkan apa saja di antara keduanya. Kunjungan-kunjungan itu telah mengikat satu sama lain dengan kehadiran seorang bayi perempuan yang lahir pada suatu sore. Kelak, ketika bayi perempuan itu tumbuh menjadi seorang gadis kecil, laki-laki itu dikenalinya sebagai seseorang yang biasa dipanggil ‘paman’.

“Apa kau mulai keberatan berperan sebagai paman?” tanya perempuan itu tiba-tiba.

Laki-laki itu menggeleng. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah perempuan itu. Perempuan itu tidak menolak ketika laki-laki itu mulai melingkarkan tangannya di pinggangnya. Perempuan itu mengenal laki-laki itu dari suaminya. Ia tahu, dalam waktu yang cukup lama laki-laki itu dan suaminya pernah menjadi sahabat dekat.

Baca juga: Peristiwa Jumat – Cerpen Tjak S Parlan (Republika, 30 Juni 2013)

“Apa menurutmu anak itu akan betah di kota?”

“Anak itu harus mulai terbiasa.”

“Kau yakin, akan kembali lagi ke rumah ini?”

Perempuan itu tidak menjawab. Ia memilih beranjak dan mulai berkemas-kemas. Setelah matahari condong ke barat, mereka meninggalkan rumah itu. Dari kejauhan—sebelum belokan menuju jalan besar—perempuan itu memandang ke arah rumah kecil itu sekali lagi. Ia membayangkan seorang lakilaki sedang berdiri di sana: di depan pintu pagar yang terbuka itu dan mengawasinya. ()

 

Mataram, 16 April 2018

Tjak S. Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di sejumlah media, antara lain Padang Ekspres, Koran Tempo, Detikcom, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Republika, Femina, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat dan lain-lain. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, sehari-harinya mengerjakan ‘perwajahan’ untuk sejumlah buku dan sejumlah penerbitan lainnya. Mukim di Pagesangan, Mataram-Nusa Tenggara Barat.

Arsip Cerpen di Indonesia