Hydrometeor

Namun, tiba-tiba saja saatku memandang foto itu, aku terjebak dalam nostalgia saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu adalah hari pertamaku masuk sekolah. Sekolah baru keduaku dalam semester itu, karena ayahku sudah dua kali dipindahkan perusahaannya yang terpaksa aku dan oma harus ikut. Namun, kepindahan ayah kali itu adalah pekerjaan tetapnya dan itu menandakan bahwa rumah kami akan tetap. Ayah mendaftarkan ku ke dalam sebuah SMA yang cukup dekat dengan rumahku.

Namun saat pertama aku berada di depan sekolah, mataku terbelalak melihat sekolah itu dan dalam pikiranku, “Ini sekolah atau gelora.” Ya cuma dalam pikiranku. Aku masuk kedalam setelah ayah meninggalkanku, mataku tetap kosong melewati setiap lorong sekolah yang sepi dan sunyi karena bel sudah berbunyi dan siswa yang sudah di dalam kelas seluruhnya. Lalu tiba-tiba saja seorang siswi berkacamata menabrakku dari belakang sehingga bukunya jatuh behamburan, “Maaf,” katanya sambil mengumpulkan bukunya, “Kamu nggak punya mata ya, udah punya mata empat masih menabrakku,” jawabku ketus. Dia langsung berlari meninggalkanku, dan dalam pikiranku yang berkesimpulan bahwa perempuan tadi pasti anak yang nakal karena terlambat ke sekolah lalu sengaja menggangguku, dan pura-pura bawa buku segala lagi, serta pakai kacamata karena sok pintar atau matanya bengkak karena main games semalaman.

Pikiran itu sengaja lewat di benakku dan tak sengaja juga aku sedikit melewatkan kelasku. Aku langsung permisi kepada bu guru yang belum kuketahui siapa namanya. “Anak-anak kali ini kita kedatangan teman baru,” teriak ibu pada seisi kelas sambil menyilakanku masuk. “Silakan kenalkan namamu,” suruh bu guru, “Perkenalkan nama saya Putra Irwandi, saya pindahan dari…” belum selesaiku mengatakan darimana asalku, tiba tiba saja seseorang menyela perkataanku dengan mengucapkan “Dari matamu, matamu kumulai” seisi kelas tertawa ricuh yang membuatku malu.

Ibu memarahi laki-laki itu yang akhirnya kutahu namanya, Baron. Ibu menyuruhku duduk di sebelah seorang siswi yang dari tadi kulihat hanya membaca buku. Aku mendekati bangkuku dan dalam sekejap mataku tak dapat menutup karena ternyata siswi sebangkuku adalah perempuan yang menabrakku tadi. Dari sanalah aku kenal dengan Yulia, dan kami mulai dekat dan akhirnya benar-benar dekat seperti adik kakak.Yulia datang dengan kalimat-kalimat indahnya yang merayuku, dia sangat menyukai banyak hal, banyaaak-banyaaaak hal yang melampaui semua kesukaanku. Ia mengajarkanku banyak hal dan dialah yang mengubah jati diriku yang penuh dengan pesimistis.

Arsip Cerpen di Indonesia