Hydrometeor

Namun kebahagiaanku hilang saat dimana ayah yang kusayang meninggal karena kecelakaan tragis. Ayah menyusul bunda yang telah lama pergi saat ia melahirkanku. Aku merasa bahwa dunia benar-benar mengutukku dalam kesengsaraan dan kesedihan. Lalu saat Yulia datang untuk menghiburku, aku merasa bahwa ia hanya membohongiku dalam buaian kata-kata. “Apa lagi sih, Yul?” tanyaku padanya, “Apa, apa katamu! Kamu nggak lihat aku lagi ngapain? Kamu kira dengan berlarut-larutnya kamu dalam kesedihan akan membuatmu nyaman, akan menghilangkan rasa bersalahmu, atau dapat membahagiakan orang tuamu, ingat Putra saat pelangi datang semua orang yang melihat merasa takjub dan senang, namun mereka nggak tau seberapa besar pengorbanan hujan yang mau tiap titik-titiknya diuraikan oleh cahaya matahari yang membuat mereka kembali ke titik nol mereka, begitu juga hidup, hidup adalah pengorbanan dan memang harus ada yang dikorbankan,” balas Yulia tehadap pertanyaan ketusku dan ia langsung pergi.

Sebenarnya, saat itu Yulia mau mengatakan bahwa ia juga akan segera pergi, dia mendapat beasiswa ke salah satu sekolah tingkat SMA di Singapura. Ia hanya mengirimiku sms pada hari dimana ia akan pergi, lantas aku mengejarnya ke bandara namun semua terlambat, aku tak dapat mengucapkan salam perpisahan untuk sahabatku itu. Aku hanya medapat sebuah surat yang ia titipkan pada bundanya, surat itu berisikan ungkapan indah, “Untuk sahabat terbaikku, Putra. Aku sangat menyukai hujan, hujan itu adalah anugerah. Ia mau jatuh berkali kali-kali, walaupun begitu ia masih mau kembali. Karena itu Putra, jadilah hujan, hujan yang mempunyai keinginan dan cita yang besar walau banyak tantangan yang dilalui, sahabatmu, Yulia,” itulah pesan terakhirnya sebelum pergi ke Singapura. Aku dan dia masih tetap berhubungan walaupun hanya dengan via e-mail karena sekolahnya sangat ketat.

Dalam lamunan nostalgia itu aku tersadar kembali bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengan sahabatku itu. Aku langsung berdiri menuju kerumunan orang yang juga sama denganku, menunggu seseorang. Aku memegang papan namanya setinggi mungkin agar dia dapat melihatku yang sedang menunggunya karena orang tuanya sudah mengizinkanku untuk menjemputnya. Aku ikut masuk dalam gerombolan orang-orang yang seakan akan sedang demo besar besaran. Namun,tiba-tiba saja seorang perempuan di dalam tv dengan pakaian serba hitam dan memegang sebuah mikrofon berkata, “Selamat siang semua, telah terjadi kecelakan pesawat airlines MJ-89 di perairan Indonesia, diperkirakan bahwa pesawat kecelakaan disebabkan cuaca buruk yang melanda,” tiba-tiba saja jantungku berhenti berdetak dan pikiranku melayang, karena Yulia ada di pesawat itu. Lalu orang-orang yang bergerombolan ini menjadi ricuh akan air mata mereka, dan tiba tiba saja kertas yang ku pegang jatuh dan terinjak karena kerumunan.

Arsip Cerpen di Indonesia