Hydrometeor

Aku masih berdiri seakan-akan kakiku tak bisa dilangkahkan lagi,lalu air mata berlinang membanjiri pipiku. Aku tak dapat mengucapkan selamat jalan pada Yulia saat berangkat ke Singapura dan sekarang akupun masih tak dapat mengucapkan kata itu. Dunia benar benar kejam, aku hanya dapat memandang fotonya saja,dan aku tak tahu bagaimana caraku untuk menjalani hari-hariku tanpa sahabat terbaikku itu.

Sekarang setelah beberapa hari pemakaman Yulia, aku datang menemuinya untuk mengucapkan selamat jalan dan menceritakan bahwa aku juga menyukai hujan. Aku berdiri di sebelah makamnya sambil memegang sebuah novel yang kutulis untuknya dan air mataku berlinang lagi mengingatnya sahanbatku.

“Hai, Yulia…saat langit menakdirkan hujan itu turun maka hujan akan mau menuruti karena ia tahu bahwa tak hanya langit yang mendambakannya namun juga bumi dan cahaya. Yulia, ini adalah novel yang sebenarnya sudah lama kutulis untukmu, novel ini adalah tanda aku sangat menyayangimu sebagai adikku, aku tahu bahwa kamu sangat menyukai hujan, dan kerenamu juga aku sangat menyukai hujan, novel ini adalah tanda persahabatan kita yang tak akan pernah putus walau kau tak lagi disini denganku. Oh ya, novel ini kuberi judul Hydrometeor yang melambangkan betapa sukanya kita akan hujan,” ucapku sambil menangis.

“Yulia, aku mungkin nggak akan sering kesini lagi karena besok lusa aku akan ke Singapura meneruskan mimpiku, mimpi yang kau suruh aku untuk mencapainya dan aku berharap agar hujan selalu membahasahimu. Aku akan selalu disisimu karena saat hujan datang aku tahu kamu akan tersenyum melihatku dan aku pun begitu, selamat jalan Yulia dan juga sampai ketemu lagi ya,” tambahku untuknya.

Lalu aku mendoakannya, sahabat terbaikku. Tiba-tiba saja hujan turun membasahiku, aku memandang langit dan dalam hatiku, aku tahu bahwa Yulia sedang melihatku dan ini adalah kata perpisahan darinya. (*)

 

Donny Alfitri, pelajar SMAN 1 Lubuksikaping.

Catatan:

Redaksi Rakyat Sumbar memakai ilustrasi cerpen koran Jawa Pos edisi 20 Mei 2018, Mawar Ungu Aulia Sulhani karya Budiono.

Arsip Cerpen di Indonesia