“Ayolah, Warto. Tolong aku sekali ini saja.”
Terdiam lagi. Karena penasaran yang teramat, aku menunggu kata-kata selanjutnya dengan berdebar-debar.
“Sudahlah. Jangan banyak cing-cong. Jangan lupa kalau aku pernah membantumu dulu, dan kau harus bantu aku kali ini. Titik!”
Lalu terdengar suara benda yang diletakkan dengan kasar di atas meja. Setelah itu, Bandit berdiri dan keluar kamar. Ia membanting pintu dengan keras. Bunyinya berdenging di tubuhku.
***
Baca juga: Kisah Kera pada Minggu Pagi – Cerpen Jemmy Piran (Haluan, 04 Maret 2018)
Aku tidak tahu pukul berapa ketika Bandit lagi-lagi berdiri di depan lemari pakaian itu dalam kejanggalan yang menusuk. Hanya berdiri saja. Aku tidak melihatnya membuka pintu dan mengeluarkan sesuatu—entah baju, celana, ataupun selimut—dari dalam sana. Ia terdiam begitu lama seperti sedang memeluk dan mencumbuinya dalam kebisuan yang hanya dirinya saja yang tahu. Ia jadi tampak semakin aneh. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang hanya bisa terpecahkan saat ia menekuni lemari itu. Atau, jangan-jangan—ini yang paling kutakutkan—Bandit mulai jatuh cinta pada lemari pakaian itu.
Sungguh mengerikan!
Aku sudah sering melihat kisah-kisah cinta mengerikan semacam itu dan tidak ingin melihatnya sekali lagi di dalam kamar ini. Suatu kali aku melihat seorang gadis kecil yang terlalu mencintai boneka beruangnya. Kudengar, boneka berwarna cokelat itu adalah pemberian ibunya yang sudah lama meninggal, dan ia selalu menggendongnya ke mana pun dirinya pergi. Lalu, suatu ketika, hidung boneka beruang itu terlepas karena tangan sepupu lelakinya yang tengah berkunjung. Dengan penuh marah, gadis kecil itu berteriak. Pekiknya begitu menyayat dan air mata kemarahannya tumpah. Secepat kilat, jari-jari kecilnya meraih sebuah gunting yang tengah ada bersamaku di dalam kaleng perkakas dan menghunjamkan dengan begitu keras ke leher sepupunya. Lagi, dan lagi. Warna merah muncrat dan mengenai tubuhku sedikit. Lalu kegaduhan menggema di seluruh rumah.
Kisah itu tidak lebih buruk dari apa yang pernah kulihat sebelumnya. Ketika itu aku baru datang di rumah ini. Ibu gadis kecil itu yang membawaku, saat ia masih gadis. Ia sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama padaku saat melihatku di toko kecil yang berbau lolipop stroberi, sampai-sampai membawaku serta ke dalam tas, ke mana pun ia pergi. Kampus, diskotik, mall, tempat makan, bahkan ketika seluruh keluarganya sedang mengunjungi sanak saudara di kampung halaman.