Bagaimana Bandit Mulai Mencintai Lemari Pakaian Itu dan Kisah-Kisah Cinta Mengerikan Lainnya

Ia akan berlama-lama di depan cermin, lalu aku akan menelusuri helai demi helai rambut hitamnya yang wangi. Ia kerap merendam rambut panjang sepunggung itu dengan perasan santan kental semalaman, lalu mencucinya di keesokan pagi. Seminggu sekali.

Di depan cermin itu, ia menatap matanya sendiri. Mata hitam yang teramat kelam. Seolah kegelapan tengah terperangkap di dalam sana. Ia diam. Dan senyap. Sementara tangan kanannya terus menggenggamku dan menyisir rambut. Diam. Dan senyap. Lalu tiba-tiba akan menyunggingkan senyum yang mengerikan. Selalu saja seperti itu. Dan itu membuat tubuhku merinding. Benar-benar merinding.

Baca juga: WOW! Banyak Orang Menangis Membaca Cerpen Ini – Cerpen Maulidan Rahman Siregar (Haluan, 14 Januari 2018)

Aku tidak tahu bagaimana ibu gadis kecil itu mati. Tahu-tahu saja ia sudah tidak kutemui dalam beberapa hari, lalu gadis kecil itu—ia baru belajar berjalan saat itu—datang di kamar ini dan menempatinya. Kamar dipenuhi oleh mainan-mainan dan mulai berbau jus buah, biskuit lembek, dan bubur bayam yang seringkali tumpah di lantai. Dan di langitlangit mulai menggantung hiasan warna-warni yang bertuliskan sebuah nama: RATMI.

***

Kali ini, Bandit duduk bersandar di depan lemari pakaian itu. Aku hanya bisa melihat bagian perutnya yang membuntal dan kedua kakinya yang lurus dan lemas, bercelana jeans hitam dan tanpa alas kaki itu. Aku tidak bisa melihat bagian atas tubuhnya, tapi aku yakin ia tengah tertunduk sempurna. Hari nampaknya sudah menjelang malam, dan aku merasakan aura kesedihannya mengaduk-aduk kamar ini.

Bandit telah berkali-kali mengangkat ponselnya, lalu meletakkan kembali ke lantai. Sesekali lemah, sesekali menaruhnya dengan kasar. Mungkin ia tengah berusaha menghubungi Warto, teman yang tadi pagi berbicara dengannya di telepon. Dan sepertinya Warto saat ini sedang tidak bisa mengangkat panggilannya (atau mungkin tidak mau?).

Lamat-lamat kudengar isakan lirih. Bandit menangis? Oh, bagaimana lelaki semacam Bandit bisa menangis? Aku memikirkannya, lalu seketika teringat pada Ratmi. Di mana perempuan itu? Kenapa ia tidak ada? Apa Ratmi minggat dan karena itulah Bandit begitu gelisah hari ini—dan menangis? Jika itu benar, pasti dari tadi ia tengah berusaha menelepon istrinya itu, bukan Warto. Ya, pasti seperti itu!

Terakhir kali aku melihat Ratmi adalah malam empat hari lalu. Mereka sedang bertengkar ketika itu. Omelan-omelan memenuhi seluruh kamar ini dan memantul-mantul di setiap lapisan dindingnya yang berwarna hijau terang. Lalu tangan gemuk Ratmi meraihku dari atas meja riasnya dan melemparkanku ke arah Bandit dengan begitu cepat. Lelaki itu bisa menghindar. Tubuhku membentur dinding, terpental, dan aku terjatuh di lantai dengan debum yang keras. Melihat lemparannya meleset, Ratmi justru semakin marah dan menendangku ke bawah kolong ranjang, menemani udara lembab dan bau debu di dalam sini. Gigiku patah tiga ketika aku membentur dinding dan aku merasakan sakit yang teramat. Karena kesal pada kedua manusia itu, aku memilih tidur saja. Dan ketika terbangun, aku melihat kaki-kaki Bandit yang gelisah pagi buta itu.

***

Arsip Cerpen di Indonesia