Sambil menyeka sisa-sisa air mata, ia bertanya pada saya apakah saya pengojek online. Saya tersenyum mengiyakan. Dia mengetahui profesi saya berkat jaket seragam yang kini ia kenakan. Hujan makin deras disertai tiupan angin yang sangat kencang hingga menyebabkan sebagian atap halte tua itu terangkat dan sepertinya tak lama lagi akan terlepas.
Baca juga: Sesungguhnya Dia Sangat Cemas – Cerpen Rama Dira J. dan Benny Arnas (Jawa Pos, 1 Agustus 2010)
Saya segera menawarkan diri mengantar si gadis ke pos polisi terdekat untuk membuat laporan diri sebagai orang hilang. Dengan begitu polisi akan membantu menyebarkan pengumuman keberadaan dirinya dan tentu ia akan mudah ditemukan pihak keluarga. Ia setuju dan kami pun bergegas menembus badai hujan menuju pos polisi terdekat.
Di sebuah pos polisi kami bertemu dengan seorang polisi muda yang justru mengarahkan kami untuk menuju kantor Polsek terdekat karena pos itu hanyalah Pos Polisi Lalu Lintas yang tidak melayani laporan mengenai orang hilang. Kami akhirnya mengarah ke tempat yang dimaksud, namun di tengah perjalanan si gadis memberikan usul untuk melapor keesokan harinya saja sebab malam semakin larut dan hujan pun tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Saya setuju saja. Lagipula, lokasi kantor Polsek memang jauh.
Dalam perjalanan, saya menanyakan kira-kira bantuan seperti apa lagi yang dapat saya berikan kepadanya. Tanpa sungkan dia mengatakan: mengajaknya menginap sementara di rumah saya adalah tawaran terbaik. Permintaan itu tentu saja langsung saya tolak. Saya justru mengajukan tawaran lain yaitu membayarkan biaya penginapan untuknya sampai keesokan hari, sampai ia siap saya hantarkan ke kantor Polsek. Mendengar tawaran terakhir saya, ia kembali menangis dan menegaskan bahwa jika saya tidak mengajaknya pulang ke rumah, ia minta diturunkan saja di pinggir jalan dan akan bertahan di sana saja sampai kapan pun dengan segenap bahaya yang mengancam.
Sepertinya, gadis hilang ingatan ini sengaja memerangkap saya dalam masalahnya. Saya tetap tak mau mengajaknya pulang karena tidak ada siapa-siapa di rumah. Istri saya sedang mudik menjenguk mertua perempuan saya yang tengah sakit di Kalimantan. Ia baru akan pulang minggu depan. Jika seorang lelaki seperti saya, sudah seminggu tak bersama istri, tiba-tiba berduaan bersama seorang gadis muda yang rupawan seperti ini, dapat saya pastikan akan datang suatu masalah yang bisa membikin runyam. Pikiran ini benar-benar menghantui saya.
Baca juga: Rindu di Penghujung Petang – Cerpen Rama Dira (Suara Merdeka, 27 Maret 2011)
Tidak ingin mengambil risiko, sayapun memutuskan menurunkannya di tepi jalan. Motor sudah berjalan beberapa meter sampai kemudian saya hentikan lagi setelah saya mendengar ia setengah berteriak mengatakan saya sebagai laki-laki yang tak punya rasa belas kasih, tak peduli pada nasib seorang perempuan yang seharusnya ditolong dalam situasi seperti ini.