Hilang Ingatan

Pikiran saya hampir habis! Saya mencoba menimbang-nimbang, apa yang sebaiknya saya lakukan. Terlintas di pikiran, sepertinya tak mengapa mengajaknya pulang dengan penuh kehati-hatian. Maksud saya, saya akan berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tak melakukan hal-hal yang sangat mungkin terjadi di antara kami. Tapi saya kembali ragu, apa saya mampu?

Saya pun terpikir untuk memberi tahu istri saya mengenai keberadaan perempuan ini agar tak terjadi salah paham, namun ide itu cepat saya urungkan. Sepertinya, jika itu saya lakukan, justru membuat urusan jadi semakin gawat. Pada akhirnya saya membuang keraguan saya dan memutuskan untuk memboncengnya pulang menuju rumah demi alasan kemanusiaan dan menepis anggapan bahwa saya tak mau menolongnya.

Motor segera melaju dan sampailah kami di rumah. Beruntung saya tinggal di rumah kontrakan di mana para warga di sekitar tidak saling kenal, tidak saling peduli. Keberadaan gadis baru yang saya bawa ke rumah ini tak akan sampai menjadi perhatian dan masalah bagi mereka.

Saya persilahkan dia untuk mandi terlebih dulu. Saya geli melihat tampilannya sehabis mandi setelah mengenakan setelan pakaian istri saya yang saya berikan sebelum ia mandi tadi. Bayangkan saja, istri saya berbobot tujuh puluh sementara dia gadis mungil yang mungkin hanya empat puluh lima kiloan.

Baca juga: Tulang Belulang – Cerpen Rama Dira (Kompas, 9 Januari 2011) 

Sehabis mandi, saya mengajaknya makan bakso yang sempat kami beli dalam perjalanan pulang tadi. Dia makan dengan lahapnya seperti orang yang belum makan selama seminggu. Dalam makan malam kami itu, tak banyak pembicaraan. Saya hanya sempat menyinggung bahwa di rumah kecil satu kamar tidur ini kami hanya tinggal berdua. Kami sudah sepuluh tahun menikah tapi belum punya anak. Sehabis makan saya persilahkan dia untuk tidur di dalam kamar. Sementara itu saya akan tidur di atas karpet depan televisi.

Di luar, hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti. Hanya dalam hitungan menit saya terlelap dalam tidur karena kelelahan berjalan seharian mencari dan mengantar penumpang, ditambah lagi urusan dengan si gadis di sepanjang jalan pulang tadi, cukup menguras pikiran dan tenaga.

Malam itu, saya terbangun oleh gelegar guntur yang begitu mengerikan dalam badai hujan di luar. Tanpa saya duga, si gadis yang tak punya ingatan itu rupanya sudah berbaring di samping saya. Dia memohon maaf karena tidak berani tidur sendirian, apalagi ia mendengar gelegar guntur hingga membuatnya keluar dari kamar, berbaring di samping saya. Saya hanya diam dan kembali berusaha memejamkan mata untuk tidur.

Arsip Cerpen di Indonesia