Baca juga: Secangkir Kopi Luwak – Cerpen Ramadira (Jawa Pos, 21 Januari 2018)
Merasa tak ada penolakan, ia pun kembali berbaring persis di belakang saya. Tiba-tiba, ia meminta izin untuk memeluk saya dari belakang. Saya agak terganggu dan merasa risi dengan permintaannya. Meski begitu, karena masih mengantuk saya berusaha kembali tidur dan tak sempat mengiyakan dan tak pula menolak permintaannya. Kini ia memeluk saya dari belakang.
Tak hanya sampai di situ, dia bertindak lebih jauh lagi dan mengatakan bahwa semuanya akan ia berikan sebagai rasa terima kasihnya kepada saya yang sudah begitu baik kepadanya. Sebagai lelaki yang lemah, saya menyerah. Saya tak sanggup menolak atau menghentikan apa pun yang kemudian ia sodorkan dengan begitu mudahnya.
***
Saya terbangun oleh sinar matahari pagi yang menembus sela-sela gorden. Tapi, di samping tak saya dapati si gadis itu lagi. Saya bangkit dan mencoba mencarinya di kamar, di dapur dan di setiap sudut rumah dan tetap saja tak saya temukan ataupun tanda-tanda keberadaannya. Dalam kebingungan dan banyak tanya di kepala, saya memutuskan untuk segera pergi mencari si gadis. Saya sudah berkeliling sekitar tempat tinggal saya satu jam dengan sepeda motor, namun tak juga saya temukan gadis itu. Saya putuskan mampir ke sebuah warung kopi sebelum melanjutkan pencarian.
Sambil menunggu mi rebus pesanan, saya menyeruput kopi sambil membaca sebuah koran yang ada di meja warung. Koran itu edisi kemarin. Persis di halaman belakangnya saya menemukan foto dan berita yang langsung membuat jantung saya berdetak tak karuan. Mendadak, tenaga saya menguap entah ke mana. Saya mengenali dengan baik wajah dan postur gadis yang sudah menjadi mayat dalam sorotan berita itu. Saya juga tahu jaket yang dia kenakan adalah jaket saya. Dalam berita itu, dia disebutkan telah tewas bunuh diri di perlintasan kereta api, dua hari yang lalu.
Saya menjadi ragu pada waktu dan ingatan saya. ***
Samarinda, 5 -8 November 2017
CATATAN:
Cerpen Hilang Ingatan merupakan salah satu karya terakhir Ramadira, cerpenis yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur. Sebab, pada Senin (16/7) lalu, cerpenis muda bernama asli Muhammad Riharja itu telah dipanggil Sang Khalik. Hingga akhir hayatnya, Ramadira tercatat sebagai PNS fungsional pengantar kerja pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Timur. Karya-karya cerpennya menyebar di berbagai media lokal maupun nasional. Dia telah membukukan beberapa cerpennya dalam Kumpulan Cerita Kucing Kiyoko (2011). Pemuatan cerpen Hilang Ingatan sudah seizin istrinya.