Laki-laki di Ketiak Istri

Sepengetahuan warga, pasangan Maksan-Simar memang kerap bertengkar. Pertengkaran itu dimulai setelah dua tahun pernikahan mereka berjalan terseok-seok disebabkan Maksan tidak jelas apa mata pencahariannya. Cinta yang semula menjadi dasar bagi mereka berjanji sehidup semati tak lagi diingat oleh Simar, utamanya. Perempuan setengah baya itu berulang-ulang, selalu setiap hari minta dicerai oleh Maksan.

Berulang-ulang pula Maksan menegakan, sampai kapan pun tak akan mencerai Simar dengan alasan apa pun. Diingatkan akan janji setia dua tahun lalu, Simar malah makin murka. Laju napasnya keluar masuk cepat dari dada ringkinya yang terasa kian menyempit. Hujan mengguyur di sore yang mulai temaram.

“Makan tuh cinta!” teriak Simar bersamaan dengan tangannya yang memukul meja. Maksan menggeleng. Nyalinya luntur. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas Simar kembali membanting piring ke lantai.

Terlampau mencintai istrinya membuat Maksan kerap mengalah sampai-sampai lelaki hitam legam itu dibilang berada di ketiak istri oleh kawan-kawannya di pos ronda. Malam ketika bulan timbul tenggelam dalam pelukan awan, Maksan tengah berada di pos ronda. Melepas penat, membuang kerumitan dalam pikirannya oleh omelan istrinya di rumah. Tiga lelaki, kawan Maksan berjaga malam sembari main gaplek.

“Ke mana aja kau? Kok baru muncul?” tanya Kasno, kawan sekaligus tetangga sebelah rumahnya, saat Maksan datang tiba-tiba dan langsung menyandarkan tubuhnya

pada tiang pos ronda. Maksan tersenyum. Selebihnya, Kasno tak memperhatikan betul desah tarikan napas Maksan yang berat dan agak goyah.

Setelah kurang lebih tujuh menit, Maksan tiba-tiba mengajukan pertanyaan pada Kasno. Terperanjat kaget Kasno, begitu juga teman-temannya yang lain oleh pertanyaan Maksan. Semua mata tertuju ke arah Maksan. Beberapa jenak, Kasno menghentikan permainan gaple. Menggeser duduknya, mendekati Maksan di pojokan pos ronda.

“Apa perlu kucerai Simar ya, Kas?” Pertanyaan itu yang membuat terbelalak mata Kasno. Rupanya, kata Kasno dalam hati, lelaki juga sulit memahami rumitnya isi kepala perempuan.

Kasno memang banyak tahu soal hidup pasangan Maksan-Simar. Kasno termasuk satu-satunya tetangga, sekaligus orang yang dianggap saudara oleh Maksan. Untuk itulah, Maksan kerap minta nasihat perihal kecamuk dalam rumah tangganya. Pasti sebab Maksan meminta saran dari Kasno karena laki-laki kuning langsat itu tidak pernah terdengar pertengkarannya, apalagi sekadar cekcok kecil dengan istrinya. Padahal, kata Maksan, Kasno juga laki-laki tidak jelas apa mata pencahariannya.

Arsip Cerpen di Indonesia