“Apakah ini tidak cukup untuk menebus semua salahku padamu selama ini?” Senyum melengkung dari bibir Simar. Maksan terharu. Simar mengambilkan nasi beserta lauk pauk kesukaan suaminya itu. Maksan mengangguk, sejurus kemudian mencium kening sang istri.
“Bukankah katamu aku lelaki tak berdaya yang berlindung di ketiakmu?” Maksan melontarkan pertanyaan itu sebelum mengunyah makanan di hadapannya.
“Aku ingin menutup pintu neraka dan pelan-pelan membuka pintu surga,” jawab Simar lirih. Lembut suaranya berujar. Di meja makan itu, pasangan Maksan-Simar kembali dipersatukan setelah bertahun-tahun pertengkaran sering terngiang di antara keduanya. Tapi, sampai Maksan menyudahi sarapan paginya, ditemani sang istri.
Maksan memendam pertanyaan dalam dadanya, apa sebab istrinya berubah secepat itu? Hingga jarum jam terus bergeser morat-marit, Maksan membiarkan pertanyaan itu dan membiarkan pula perubahan istrinya tersebut tetap diselimuti misteri.
Pulau Garam, Februari 2017