“Bagaimanapun keadaan lelaki,ya tetap ia suami bagi istrinya. Tak boleh istri menempatkan suami dalam ketiaknya,” kata Kasno. Maksan terdiam sesaat. Ia kemudian menceritakan laku istrinya dua tahun belakangan.
“Itu karena kamu sendiri yang terlalu lembek. Tidak tegas. Apa pun keadaanmu, surga istri tetap terletak di genggaman suami.” Kasno melanjutkan kata-katanya. Angin dari utara menghunus setiap inci kulit.
“Aku sangat mencintainya. Aku tak mau menyakiti hatinya,” ujar Maksan, suaranya lebih menyerupai desis. Terbayang dalam benaknya yang sempit, kata-kata istrinya di suatu siang yang teramat terik, kamu itu masih berlindung di ketiakku.
“Tegas bukan keras, ingat itu! Justru sikapmu yang begini menandakan kau tak mencintai istrimu,” ucap Kasno tegas. Ia menepuk pundak Maksan. Kerut-kerut di dahi Maksan membuat garis bergelombang, seperti hidup yang terombang-ambing.
“Kenapa begitu?” Tanya Maksan dengan mata melotot bingung.
“Membiarkan istrimu menentangmu bahkan mengumpatimu sama artinya menjerumuskannya ke lubang neraka paling dalam,” Kasno menyalakan sebatang rokok. Mengisapnya dalam-dalam. Asapnya berputar-putar di atas kepala mereka.
“Aku pernah mengingatkannya. Tapi…” tercekat suara Maksan. Ia mengatur napasnya yang kian sesak di dadanya yang ringkih. Setelah jarum jam bergeser tiga menit, Maksan bilang, “Tapi dia bilang, karena tidak jelas mata pencaharianku, dan merasa dirinya yang paling banyak mengeluarkan uang belanja, untuk itulah ia kerap menempatkanku di ketiaknya,” Maksan menguari cerita, dengan gerimis serupa helai-helai rambut tertampung di ceruk matanya yang curam.
“Bukan berarti kamu tak berpenghasilan, bukan?” Pertanyaan Kasno dijawab oleh Maksan dengan anggukan kepala. Matahari mendaki di permukaan langit ketika Maksan meninggalkan pos ronda dan membawa langkahnya ke rumah. Maksan sempat berdiri beberapa jenak di depan pintu. Wajah istrinya berbinar begitu daun pintu itu dikuakkan oleh perempuan berkulit kuning langsat itu dari dalam. Ia mengulas senyum pada bibirnya. Tangan kanan Simar membimbing Maksan masuk ke dalam.
Maksan tercenung dan berperasangka macam-macam saat mengetahui hidangan sarapan pagi terhidang di atas meja. Maksan masih tidak tahu, apakah semua makanan di atas meja itu dipersiapkan untuknya. Jangan-jangan Simar sedang menunggu kedatangan lelaki lain, karena selama ini ia tak pernah berbuat semacam itu. Pikiran buruk itu hendak beranak pinak dalam tempurung kepala Maksan. Tapi, buru-buru ia menyingkirkan sekelebat bayangan buruk itu.