“Ayo… cepatlah, aku menantimu. Naiklah… naiklah…” gadis berteriak sejadi-jadinya. Tak seorang yang mau mendekatinya. Tak juga seorang petugas berpakaian jingga bagai warna wortel. Mereka malah seenaknya menghirup asap rokoknya dan mengepulkannya ke udaha dalam terpaan angin kencang.
“Hep… ya, lagi… lagi… lagi…” gadis itu pun mencebur diri ke dalam danau dalam udara dingin. Dia menyelam dan menarik sesuatu. Orang-orang yang semula termangu berlarian mendekat derma, begitu melihat si Gadis mencebur diri ke dalam danau.
Ada beberapa menit gadis berada dalam air. Orang-orang mulai cemas, apakah dia akan muncul ke permukaan atau tidak. Hanya orang-orang yang keluarganya ikut tenggelam, mau mendekat ke dermaga. Tak lama, orang-orang pun berteriak-teriak.
“Dia naik… dia naiiik…”
Gadis itu dengan sebelah tangannya berenang ke tepian dan sebelah lainnya menggenggam sesuatu. Jenazah.
Baca juga: Lokot Tak Kembali – Cerpen Eva Riyanti Lubis (Analisa, 14 Januari 2018)
“Dia membawa mayat… dia membawa mayat…” teriak yang mulai ramai berdiri di tepi dermaga, tanpa menghiraukan hujan.
“Mayaaat…” teriak seseorang. Sayangnya hanya beberapa saja yang mau menyusulnya ke tepian. Mereka ingin tau mayat siapa yang dibawa oleh si Gadis.
Beramai-ramai mereka menggotong jenazah yang terangkat. Jenazah itu dibawa ke posko yang tersedia. Semua orang terkejut, si gadis mampu membawa jenazah ketika dia menyelam tadi. Tak seorang pun yang mengetahui, kalau mayat itu tarangkat ke permukaan, karena si gadis martonggo (berdoa) pada mula jadi na bolon.
Tak seorang yang hadir mengetahui, kalau suara taganing yang tak bisa didengar oleh orang-orang yang hadir adalah doa. Tak seorang yang mengerti kalau suara sarune yang tak terdengar oleh sesiapa kecuali si gadis adalah doa. Tak seorang yang mengetahui, kalau tor-tor (tarian khusus) adalah juga sebuah do’a yang tulus.
Ompu mula jadi na bolon mengutus seseorang untuk mengangkat jenazah itu ke permukaan. Tak seorang pun yang tau, kalau dua perempuan adalah penguasa danau telah menolong si Gadis untuk mengangkat kekasihnya itu naik ke permukaan.
Ada tiga orang yang mengangkat jenazah itu ke posko. si Gadis dan dua orang lelaki di bagian pingang dan kaki. Bergantian orang-orang diberikan waktu untuk mengenali jenazah. Sampai akhirnya satu keluarga menangis berteriak dan terisak-isak.
Baca juga: Kisah Siti di Hari Natal – Cerpen Jones Gultom (Analisa, 31 Desember 2017)
“Dia anakku… dia anakku,” seorang ibu menyeruak dan menepis orang-orang yang mendekat pada jenazah.
“Minggir kau… bentak ibu jenazah kepada si Gadis. Gadis pun menepi, memberikan kesempatan kepada keluarga dekat Jenazah. Ya… jenazah itu bernama Hermanus. Kekasih si Gadis.