Menari di Ujung Dermaga

Saat itu ibu menangis dan keluarganya mengurusi jenazah. Para petugas mengurusi administrasi. Benarkah jenazah ini keluarga anda. Apa buktinya, siapa saksinya dan sebagainya.

Gadis kembali ke ujung dermaga dengan pakaian kutup. Dia kembali menghentak-hentakkan kakinya dalam urdot yang teratur. Wajahnya menengadah ke langit.

Awalnya Gadis menari tanpa setetes air mata. Kini dia menari dengan tetesan air mata melebihi derasnya tetes air hujan yang turun. Mulanya dia katupkan kedua telapak tangannya meyatu pada dahinya. Tak lama kemudian kedua telapak tangannya dia kembangkan dan terangkat tinggi ke atas.

Mauliate ompuuung. Mauliate namboruuu…” demikian Gadis mengucapkan terima kasih kepada sang khalik dalam bahasa leluhurnya.

Hujan pun berhenti. Awan hitam menghilang. Awan putih berarak cerah dan air danau semakin tenang. Matahari perlahan merangkak menuju tempat peraduannya.

Gadis mendekati jenazah. Banyak orang sudah tak mampu mendekat. Termasuk keluarganya sendiri. Sesuatu aroma menusuk penciuman orang ramai. Gadis membersihkan jenazah. Menyisir rambutnya, membuka sepatunya yang menyempit. Segala sesuatunya dia kerjakan sendiri.

“Aku mengikhlaskan kepergianmu, kekasih,” ujarnya lembut. Tanpa isak tangis. Tanpa tetes air mata. Hanya dadanya yang menggemuruh menatap Hermanus yang sudah kaku membujur.

Petugas menyediakan sebuah ambulans untuk membawa jenazah ke rumah duka. Hemanus diangkat beramai-ramai oleh keluarga. Gadis mendapat kesempatan untuk mengangkat jenazah ke dalam ambulans. Suara serine ambulans meraung-raung membawa jenazah pulang, 151 Km jauhnya. Dua mobil penuh mengaraknya dari belakang. Mobil yang berarak itu tanpa si Gadis.

Baca juga: Sayur Daun Ubi Tumbuk – Cerpen Sri Lima Ratna Ndari (Analisa, 24 Desember 2017)

Dengan seorang temannya yang mengendarai sepeda motor, mereka mengikuti suara raung sirene, menembus malam. Tiga jam perjalanan menembus dinginnya malam. Tanpa menyalin pakaian yang basah kuyup.

Handaitaulan sudah menanti di rumah duka. Semua sudah siap. Jenazah langsung dimasukkan ke dalam peti jenazah. Bubuk kopi ditaburi di sisi tubuh jenazah agar aroma tak sedap bisa berkurang.

Isak tangis keluarga dan tetangga menggema bersahutan. Banyak yang menyesalkan, kenapa Hermanus harus pergi liburan ke kampung kekasihnya.

Arsip Cerpen di Indonesia