“Beginilah jadinya. Kalau saja kau mau mendengar larangan ibumu, kau tak akan tenggelam, anakku,” isak Ibu menangisi jenazah yang terbujur kaku.
Orang-orang sedikit menyisih, ketika Gadis memasuki ruangan. Berpasang-pasang mata menatapnya penuh heran. Walau pakaiannya sudah tak sekuyup semula, namun masih terasa kalau pakaiannya masih belum kering betul.
Gadis berlutut di sisi jenazah. Dia menatap janazah yang sudah kaku membujur. Di dekatinya ibu Hermanus yang masih menangis sendu.
“Tabah inang. Semua sudah terjadi, kehendak-Nya menentukan segalanya…” Gadis berupaya menenangkan hati sang ibu.
Si Ibu menatapnya nyalang. Matanya bagaikan mata harimau liar. Kelihatan si Ibu seperti mau menerkam.
Baca juga: Kaisar dan Rembulan – Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 12 November 2017)
“Diam mulutmu! Ini semua gara-gara kau. Kalau tak kau suruh anakku menemuimu ke kampungmu, dia tidak akan menjadi korban. Mengerti kau?” Gadis masih berusaha menentramkan hati si Ibu. Keluarga Hermanus beramai-ramai menyeret Gadis agar tidak mendekat jenazah dan mendekati si Ibu.
“Pigi kau!. Pigiiiii. Kau sudah tau anakku tenggelam, menari-nari pulak kau di dermaga kayak orang gila. Kesempatan pulak kau memperlihatkan kebolehanmu menari. Pigiii…”
Gadis, menjerit bathinnya. Dia ingin menjelaskan kenapa dia menari.
“Tak perlu kau becakap. Pigi kau. Kau penyebab anakku tewas tenggelam. Kayak selebriti pula kau menari-nari ditontoni orang ramai. Pigi kaaaaauuu…”
Gadis bangkit perlahan dia meningalkan jenazah Hermanus. Kekasih yang paling dia kasihi. Baru tiba di teras rumah, suara sang ibu kembali berteriak.
“Awas kau kalau kau datang lagi. Tak perlu kau ikut memakamkan anakku ini. Tak boleh kau jiarahi dia. Mengerti kau?!”
Sambil berjalan mundur, Gadis menatap untuk terakhir kalinya Hermanus. Gadis hanya bisa melihat peti jenazah saja.