Nyanyian-nyanyian di Damrak

Tersenyum canggung, Jan membenarkan letak helm di kepalanya, “Sampai kapan kamu akan duduk di sana? Kita harus bergegas, kalau kamu ingin bisa lebih lama di Museum Bronbeek.” Seekor merpati terbang mendekati Jan, “Dan kenapa memilih menungguku di tempat sepanas ini?”

“Biar kamu cepat menemukanku.” Aku meloncat ke boncengan Jan, lalu kami menyusuri Damrak menuju stasiun kereta api Amsterdam Central, merpati-merpati itu berterbangan memberi kami jalan. Kami berboncengan selayaknya teman lama yang baru saja bertemu, aku menutup kemungkinan-kemungkinan, kalau leluhur kami, suatu kali dulu pernah berhadapan untuk saling membunuh. Menyisakan sebuah teka-teki lain, apa yang terjadi dua ratus tahun yang akan datang pada anak cucu mereka yang saat ini sedang berperang di Syiria, Yerusalem, dan di belahan bumi mana pun yang sedang berkecamuk perang; bersama menikmati es krim di taman, atau masih seperti saat ini, ingin saling menghabisi.

Dugaanku, kebaikan Jan padaku juga tak lebih untuk menebus rasa bersalah atas apa yang pernah dilakukan leluhurnya dulu di tempat asalku, Jenderal JLH Pel, kakek buyutnya memang tidak mati di ujung rencong atau mata parang orang Aceh, sang jenderal mati akibat serangan jatung di Perkemahan Krueng Cut. Tetapi tetap saja, dia pemimpin pasukan yang memerintahkan anak buahnya untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya.

Setelah menempuh perjalanan satu jam setengah dengan kereta api dari stasiun Central Amsterdam, kami tiba di Arnhem, kota yang menjadi saksi kedahsyatan Perang Dunia II, yang terletak di tepi sungai Rhine, tujuan kami adalah Museum Bronbeek. Begitu memasuki pintu museum, aku terpana melihat sebuah meriam besar menyambutku, “Meriam itu diangkut dari Aceh,” Jan mendekati benda besar tersebut, “Lihat! Ini ada keterangannya,” Jan menunjukkan tulisan di badan meriam yang berwarna keemasan.

Bukan itu yang menarik perhatianku, pandanganku melewati bahu Jan yang begitu bersemangat menjelaskan asalusul meriam besar itu. Di antara meriam-meriam yang tersusun di Museum Bronbeek, aku melihat seorang lelaki berwajah Melayu tersenyum, senyum yang menarikku untuk mendekat; aku seperti mengenal lekali itu, tetapi tidak mengenalnya.

“Apa penjaga Museum ada orang Melayu?” tanyaku pada Jan.

“Tidak ada.” Dia sedikit terkejut menjawab pertanyaanku. Bisa saja itu salah seorang pengunjung seperti halnya diriku, tapi pakaiannya, lelaki itu memakai kopiah meukutop dan jas hitam lengkap dengan kain songket sebatas lutut: itu baju adat dari daerah asalku. Rasanya, tidak mungkin pengunjung museum memakai pakaian seperti itu.

Arsip Cerpen di Indonesia