Melangkah ke arah tempat penyimpanan senjata, laki-laki itu menoleh ke belakang, mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya, berjalan ke sisi lain museum. Setengah kebingungan, Jan juga mengikuti langkahku.
Laki-laki itu berdiri di tempat penyimpanan senjata tradisional, lagi aku dibuat terpana, bentuk-bentuk senjata itu begitu kukenal: parang, rencong, siwah, tombak dan pedang. Telunjuk lelaki itu mengarah ke sebuah rencong, aku menatap Jan meminta penjelasan, tetapi lelaki itu bergeming. Telunjukku ikut mengarah ke benda tersebut.
“Senjata Umar, “ ujar Jan. “Kenapa kamu menanyakan benda tersebut?”
“Dia ….” Aku menunjuk ke tempat laki-laki itu berada.
“Dia siapa?” tanya Jan penasaran.
Aku menatap lekat ke wajah lelaki di depanku. wajah yang mengingatkanku pada selembar foto hitam putih di buku Perang Aceh karya Paul van’t Veer. Tidak mungkin, ini tidak mungkin, seharusnya dia sudah lama mati ….
Laki-laki itu tersenyum padaku, kemudian sosoknya menjadi bayangan, lesap ke dinding-dinding kaca museum. “Ini tidak mungkin.”
“Kamu kenapa?”
“Aku melihat Teuku Umar.”
Tatapan Jan menghujam jantungku, “Sebaiknya kita segera pulang, sepertinya kamu kurang sehat.” Kami belum sempat menjelajahi seluruh museum, Jan telah memaksaku untuk pulang. Di dalam kereta api kembali ke Amsterdam, aku tidak banyak berbicara, Jan sesekali mencuri pandang ke arahku, dalam tatapannya tersirat kecemasan, tak kutahu pasti apa yang sesungguhnya berada dalam hati pemuda itu.
Begitu keluar dari Stasiun Central Amsterdam, aku takjub melihat anak-anak dan perempuan telah berbaris sepanjang Damrak, mereka seperti menyambut kedatangan kami dengan memakai gaun-gaun yang mengembang dan anak-anak memakai jas. Aku tersenyum ke pada orang-orang yang tidak kukenal itu.
“Teuku Umar die moet hang, aan een touw Teuku Umar en zijn vrouw,” mereka mulai bernyanyi, “ Teuku Umar mesti digantung, gantung di tali, gantung di tali Teuku Umar dan istrinya.” Mereka mulai menunjuk-nunjuk ke arahku. “Kembalikan kemaluan suami-suami kami yang kalian potong!” Mereka mengubah nyanyian menjadi teriakan dan mulai mengejar kami, “Kalian memotong mayat-mayat ayah kami!” teriakan anak-anak tertuju padaku.