Nyanyian-nyanyian di Damrak

Berbeda dengan kejadian di Museum tadi, kali ini Jan bisa melihat orang-orang itu. Dia menarik tanganku, kemudian kami berlari, berlari ke arah kanal besar yang membelah kota Amsterdam. Orang-orang itu masih berteriak dan mengejar kami. Jan melompat ke sebuah perahu kecil yang berada di pinggir kanal, kemudian menyuruhku mengikutinya, lalu dia menghidupkan mesir perahu, perahu itu melaju, memecahkan permukaan air, meninggalkan para perempuan dan anak-anak yang masih berteriak di belakang kami.

“Apa yang terjadi?” tanyaku setelah perahu kami jauh meninggalkan orang-orang yang begitu bernafsu mengejar kami. Jan mengangkat bahu, satu yang pasti, hanya ada kami berdua di dalam perahu itu, sementara angin menderu menyenandungkan Hikayat Prang Sabi. Tentang orang-orang yang mati dalam perang, kemudian di sambut para perempuan cantik di taman surga Tuhan.

Selesai

*Syair yang terdapat dalam Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje karya Paul van ’T Veer.

Terima kasih kepada Mas Kurnia Effendi atas foto-foto di Dam Square.

Ida Fitri, sejumlah karyanya telah terbit di media massa. Kumcer pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong (2017)

Arsip Cerpen di Indonesia