“Aku membaca berita di koran kalau para tukang becak itu kadang nekat masuk ke rumah dan mencuri barang berharga.”
Aku diam mendengar kisah tetanggaku tersebut. Dan akhir-akhir ini keberadaan para tukang becak menjadi menggelisahkan. Karena selain berita tentang para gembel yang diorganisasikan oleh oknum tak bertanggung jawab, berita pagi tadi juga mengabarkan perampokan. Di lembar koran pagi itu, diwartakan sebuah rumah berhasil dibobol oleh seorang maling. Tetangga yang menjadi saksi mengatakan sempat melihat seorang tukang becak yang membawa buntalan di sepedanya. Hal itu dicurigai sebagai buntalan barang curian. Akhirnya karena isu itu, warga melarang kedatangan para tukang becak memasuki perumahan.
Baca juga: Bocah yang Ingin Melihat Neraka – Cerpen Risda Nur Widia (Radar Banjarmasin, 22 Oktober 2017)
Setelah dibuat peraturan mengenai larangan masuk bagi tukang becak, kompleks menjadi aman. Mereka tidak dapat berkeliaran dengan bebas. Akses mereka masuk telah ditutup oleh penjaga keamanan kompleks. Namun di antara kami—para warga—sesekali masih melihat keberadaan seorang tukang becak. Bedanya kini kami melihatnya di tengah malam. Tukang becak itu acap terlihat di atas pukul 11 malam. Ia dengan baju kumuh dan becak tua penuh karat sering menyelinap di antara gang dan remang jalan. Kami beberapa kali mencoba mengejarnya, sayangnya gagal.
Kehadiran tukang becak di waktu malam itu terns tepergok di antara kami. Dan menyadarinya, kami mulai gelisah. Akhirnya kami mendatangi bagian keamanan kompleks. Di sana kami mengutarakan kesaksian mengenai seorang tukang becak yang acap hadir ketika malam. Namun tanggapan yang kurang menyenangkan kami dapat. Empat satpam yang menjaga kompleks semuanva mengaku sudah melarang para tukang becak masuk. Warga yang tak percaya lantas menuntut lagi. Pak Kadir misalnya. Pria kaya itu menjelaskan kepada empat satpam kalau dirinya pernah melihat seorang tukang becak melintas beberapa kali di depan rumahnya.
“Saya meliliat sendiri tukang becak itu!” tegas Pak Kadir. “Kalau itu bukan tukang becak, apa lagi?!”
Bela seorang satpam tenang. “Tapi kami sudah melarang semua tukang becak masuk, Pak.”
“Lalu siapa yang mendorong becak itu?”
“Kami tidak tahu,” jawab satpam itu. “Kalau bapak masih tidak percaya, pos kami dilengkapi kamera pengamanan. Bapak bisa lihat semua kegiatan di sini.”
Semua warga terdiam setelah mendengarkan kalimat satpam tersebut.
“Tapi saya melihat sendiri tukang becak itu,” tegas Tamo juga.