Penjemput Kesedihan

“Kejadiannya hampir persis seperti Pak Tarman. Aku didatangi tukang becak itu. Ia meraba dadaku. Dan di tangannya yang kurus begitu saja terdapat buntalan berisi penuh sampah. Ia kemudian berujar kepadaku: ‘Tak baik berpikir buruk tentang orang lain. Hiduplah dengan damai dan kau akan jauh dari segala penyakit.’ Setelah itu aku sembuh.”

Baca juga: Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar – Cerpen Risda Nur Widia (Koran Tempo, 30-31 Desember 2017)

Tarno malam itu terlihat sangat segar. Tidak terlihat wajah kuning pucatnya. Bahkan ia menjadi lebih ramah. Aku sendiri yangmendengarkan kisah-kisah tak masuk akal tentang tukang becak itu tak percaya. Setelah semua pengakuan itu— kami warga kompleks—dibuat bertanya-tanya: Apakah benar tukang becak itu meminta kesedihan?

***

Selain Pak Kadir dan Tarman, aku orang terakhir yang pulang larut di acara arisan itu. Sepanjang jalan menuju rumah yang tak lebih hanya delapan menit, aku terus memikirkan tukang becak itu. Secara pribadi aku memang belum pernah bertemu atau melihatnya. Kini— karena semua pengakuan tetanggaku— aku merasa penasaran. Aku melangkah santai. Angin dingin berdesir meraba tubuhku. Dan tanpa aku sangka, ketika berbelok di suatu gang menuju rumah, aku bertemu seorang tukang becak. Ia tersenyum ke arahku. Wajahnya benar-benar terlihat menenangkan.

“Boleh aku minta sesuatu darimu?” tanya tukang becak.

“Minta?”

“Aku boleh mengambil kesedihan yang mendekam di hatimu?”

Aku hanya diam tanpa menyetujui ketika tangan kurus tukang becak itu meraba dadaku. Dan sekejap di tangannya ada lima plastik hitam yang entah berisi apa. Tukang becak itu menyatakan keinginan untuk membawanya. Aku mengangguk. Tukang becak itu pergi tanpa menyatakan sesuatu—hanya senyum ramah kepadaku. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia