“Saya juga!” tambah Karta.
“Lalu dari mana tukang becak itu masuk?” pitam Pak Kadir.
Satpam itu kembali membela, “Kalau bapak-bapak tak percaya bisa melihat kamera penjaga kami. Bapak bisa melihat semua akses dan kegiatan di kompleks. Bapak-bapak tahu kan hanya pintu inilah yang menjadi akses keluar-masuk kompleks.”
Mereka akhirnya menonton rekaman kamera keamanan pos. Dan mereka tidak menemukan seorang tukang becak yang menyelinap. Apabila menaiki tembok perumahan, hal itu mustahil. Tembok tinggi pembatas perumahan sangat sulit untuk dipanjat. Bahkan oleh seorang maling. Para tukang becak itu tidak mungkin menerobos masuk kompleks dengan mengerek becaknya.
***
Kami semakin sering melihat tukang becak yang menuntun becaknya di tengah malam. Bayangan tukang becak itu berkelebat dalam remang lampu gang. Dan beberapa orang yang pernah secara tak sengaja melihat menyatakan kalau sosoknya sedikit berbeda dari yang biasa dijumpai. Ia tidak terlihat letih seperti para tukang becak pada umumnya. Namun lebih segar. Di antara kami bahkan pernah ada yang didatangi tukang becak itu. Contohnya Tarman. Pria super sibuk dan menjadi ayah tunggal bagi dua anaknya itu mengaku kepada kami kalau pemah didatangi seorang tukang becak di rumahnya.
Baca juga: Rinjani: Pada Suatu Hari yang Malas – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 16 Oktober 2016)
“Pria itu datang di tengah malam. Awalnya aku takut. Tapi karena wajah ramahnya, aku mempersilakan ia masuk di teras. Dan ketika aku menyerahkan beras ia menolak. Begitu juga dengan uang. Katanya ia tidak meminta apa pun dariku. Ia hanya ingin kesedihanku,” kisah Tarman kepada kami saat kumpul arisan menjalang hari raya.
“Maksudnya?” tanya Kadir, “Kesedihan?”
“Ia benar-benar tidak meminta apa pun. Ia hanya menginginkan kesedihanku. Dengan tangannya yang kurus, ia meraba dadaku. Dan tiba-tiba di tangannya ada lima kantongplastik. Ia bilang kepadaku: ‘boleh aku bawa kantong-kantong kesedihanmu?’”
Tarman menceritakan kisahnya dengm wajah berseri. Tak seperti biasanya, ia terlihat demikian. Tarman, kami kenal sebagai pria pemurung dan pemarah. Ia terliliat sangat tertutup di antara kami. Bahkan ia jarang mengikuti kumpul sesama warga. Lebih-lebih setelah istrinya meninggal. Kepergian istrinya seolah telah mengubah banyak hidup Tarman. Namun malam ini ia terlihat berbeda. Ia seperti terlahir kembali sangat bahagia.
Setelah Tarman berkisah tentang pertemuannya dengan seorang tukang becak, menyusul pengakuan Tamo yang sedikit ganjil. Ia mengaku bertemu juga dengan tukang becak di tengah malam. Ketika itu ia dalam keadaan demam dan menunggu ambulans membawanya ke rumah sakit. Namun sebelum mobil ambulans datang, istrinya didatangi seorang tukang becak. Tukang becak itu menyatakan sangat ingin bertemu Tamo. Karena wajah ramahnya, istri Tamo menjadi luluh. Istri Tamo mempertemukan tukang becak itu.