Sekelam Dirham

“Bapak, sudah, Pak. Setop! Kasihan Dirham, Bapak pukuli terus,” ujar Uci.

“Kalau nggak dipukul, anak ini nggak akan ngerti!”

“Cukup, Pak, cukup! Kekerasan tak bakal mengubah dia jadi lebih baik!”

“Halah! Kamu dan Ibu sama saja. Memanjakan dia!”

Bapak berlalu, meninggalkan mereka berdua di kamar. Uci memeluk erat Dirham. Dirham membalas pelukan sambil berharap mimpi buruk itu cepat berakhir.

***

Baca juga: Taraji, Oh Taraji – Cerpen Chandra Buana (Suara Merdeka, 08 April 2018)

Makin hari kelakuan Dirham kian tak terbendung. Baru saja sang ibu mendapat laporan Dirham berkelahi. Temannya pingsan, lalu dilarikan ke rumah sakit.

Ibu menyusul ke rumah sakit, meminta maaf, dan menyatakan akan mengganti seluruh biaya pengobatan. Untung, keluarga itu menganggap perkelahian tersebut hanya wujud kenakalan remaja.

Saat tiba kembali di rumah, Ibu memberitahukan kejadian itu pada Bapak. Bapak sangat syok, apalagi setelah melihat jumlah tanggungan pembayaran di rumah sakit. Dia memegang dada. Pingsan. Saat itu, tak ada yang tahu di mana Dirham berada.

“Mobil kita jual saja ya?” Itulah kalimat pertama Bapak setelah tersadar.

“Bapak tak usah mikir itu dulu. Istirahatlah,” ujar Ibu yang duduk di tepi pembaringan bersama Uci.

“Mana Dirham?”

“Masih dicari Om Dezan, Pak,” sahut Uci.

“Bapak istirahat saja. Tak usah mikir macam-macam. Kalau Bapak sudah sehat, baru kita pikirkan.”

Bapak memejamkan mata, lalu tertidur.

Tujuh hari berselang, Dezan menemukan Dirham di sebuah gedung tua. Dirham tertidur, menggenggam botol minuman keras. Dezan menyeret dia pulang sambil memberi tahu bahwa Bapak terkena serangan jantung dan kini dirawat di rumah sakit.

Wajah Dirham menunjukkan kegetiran. Namun dia tak mau memperlihatkan perasaan. Di dalam mobil, Dirham menolak ke rumah sakit. Dia tak mampu memaafkan, walau Bapak sakit keras sekalipun.

“Halo, Nak. Kamu ke sini ya. Bapak mau omong,” suara Ibu di telepon.

“Lebih baik Bapak mati sekalian.”

“Kamu tak boleh omong begitu, Nak.”

Arsip Cerpen di Indonesia