Sekelam Dirham

Sayup terdengar suara Bapak meminta Ibu menyerahkan telepon. Dia ingin bicara. “Nak, kamu bisa ke sini?” Suara lembut Bapak tiba-tiba menggetarkan hati Dirham. “Bapak mau omong untuk kali terakhir, Nak. Bapak janji, setelah ini kamu bebas mau bicara lagi pada Bapak atau tidak.”

Dirham terdiam, lalu menutup telepon. Dia pun menuju ke rumah sakit.

Setelah pertemuan dengan sang bapak, tak ada perubahan drastis pada Dirham. Mungkin memang benar dia sudah gila. Begitulah pikir orang-orang. Tak sedikit orang tua melarang anak mereka bermain dengan dia.

Hanya beberapa teman masih setia bermain bersama dia. Itu pun kebanyakan lebih tua dan tak sekolah. Mereka merokok dan minum minuman keras. Ya, Dirham tak henti-henti mabuk dan merokok.

Bahkan dengan santai dia membawa teman-teman ke rumah. Mereka berpesta minuman kears. Bahkan ada teman mengajak perempuan.

Malam menjelang. Telepon berdering. Setengah mabuk, Dirham mengangkat telepon. Dia tersentak ketika mendengar kabar Bapak baru saja meninggal. Bergegas dia membangunkan teman-temannya. Dia bersihkan sisa makanan, puntung rokok, dan botol-botol minuman. Lalu dia mandi, menyikat gigi, memakai wewangian penghilang bau alkohol.

Baca juga: Shaf Kosong – Cerpen Chandra Buana (Suara Merdeka, 06 Mei 2018)

Kerabat dan tetangga berdatangan. Mereka memasang tenda, menyusun kursi, menaruh baskom berisi beras tempat menaruh uang dari para pelayat. Dirham mengintip baskom bertutup kain itu.

“Cukup banyak,” pikir dia. Dia tak lagi memedulikan jasad Bapak yang terbujur kaku.

Malam itu, di kamar dia tak bisa tidur. Bukan karena suara mengaji yang terasa mengganggu. Namun dia memikirkan besok bakal punya banyak uang, sehingga bisa membeli minuman dan rokok. Dia akan jadi raja.

Pagi-pagi benar, ketika orang-orang salat subuh, Dirham mengambil seluruh uang dari baskom. Dia mengendap-endap, pergi, tanpa sepengetahuan siapa pun.

***

“Mana sisa uang pelayat kemarin, Bu?”

Ibu kaget ketika Dirham tiba-tiba pulang ke rumah setelah tiga hari menghilang. “Astaghfirullah! Kamu dari mana saja, Nak?”

Udah, cepet. Mana duitnya? Kalau nggak, kubunuh!” bentak Dirham sambil berjalan ke dapur, mengambil pisau.

Arsip Cerpen di Indonesia