Sekelam Dirham

Ibu menghambur keluar, mencari pertolongan. Untung, seorang tetangga mampu melumpuhkan Dirham. Pisau terlepas dari tangan Dirham. Dia tertangkap. Malam itu, dia dibawa ke rumah Om Dezan. Dia tinggal di sana beberapa waktu.

“Aku mau pulang,” ujar Dirham.

Dezan merasa Dirham sudah cukup waras. Karena itulah, dia mengantar Dirham pulang. Namun Dezan menelepon beberapa kerabat agar berjaga-jaga. Tiba di rumah, Dirham langsung menghambur ke dapur. Tampaknya dia hendak mengambil pisau.

“Memang sudah benar-benar gila dia,” pikir Dezan.

Suasana mencekam. Tiba-tiba seorang kerabat berkata, “Dirham, Pakde mau beli durian. Kamu mau ikut nggak?”

Sebagai penggemar berat durian, tentu saja Dirham mengiyakan. Seluruh kerabat sepakat jika di mobil Dirham berbuat macam-macam, mereka akan langsung membawa ke rumah sakit jiwa. Selama perjalanan Dirham tampak senang. Kerabat semobil tak bercuriga apa pun.

“Bentar ya, Pakde mau nemui teman,” kata Pakde setelah membelokkan mobil ke pekarangan rumah sakit.

Dia berbicara dengan suster. Mereka sepakat membius Dirham dan membawa ke kamar. Dirham tak sempat melawan. Dia pingsan.

Dua bulan berlalu. Dirham berubah. Kini, dia rajin salat dan terus-menerus memanggil Ibu, meminta maaf. Dokter pun akhirnya mengizinkan Dirham pulang.

Dezan memutuskan menginap di rumah mereka beberapa hari untuk memastikan semua sudah benar-benar aman. Malam keempat setelah kepulangan Dirham, Dezan pulang ke rumahnya. Dia merasa tak ada lagi yang perlu ditakuti.

Dirham benar-benar berubah. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu memeluk sang ibu sambil meminta maaf.

Hari dan bulan berganti begitu cepat. Malam ini, peringatan malam ke-100 kepergian sang bapak. Ketika acara usai dan semua pulang, seseorang datang menemui Ibu. Mereka berbincang di ruang tamu.

“Bu, saya bendahara di kantor Bapak. Ini uang pensiun Bapak yang baru saja turun.”

“Oh, iya.

Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan.”

Tiba-tiba pintu kamar Dirham terbuka. Dirham mendengar percakapan mereka. Dia memandang tamu itu sebentar, lalu beranjak ke dapur, mencari-cari sesuatu. “Bu, pisau di mana?” (44)

 

Semarang, 17 Juli 2018: 04.04

Chandra Buana, mahasiswa Jurusan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi

Arsip Cerpen di Indonesia