“Ah, aku kasihan pada ibunya Nyak syukri, ibunya sampai menangis-nangis di halaman rumah biar mereka tak jadi menikah. Sial benar nasib ibunya, bermenantukan perempuan yang hampir seumur dirinya sendiri.” Kak Na mengeluarkan daun-daun ubi dari goni yang lain.
“Ada berapa orang tamu yang diundang oleh Kak Puteh?” tanya Wa Salamah yang terkantuk-kantuk di antara daun-daun ubi. Perempuan itu seperti mengalihkan topik pembicaraan.
“800 orang, sudah termasuk tamu dari pihak pengantin perempuan.”
“Kudengar dia menyediakan 20 kilo kacang untuk bumbu pecal, 10 karung beras, 60 ekor ayam, selain itu juga ada tauco cabe hijau dan kulit ayam, dan juga teri kering teuphep untuk tamu yang tidak doyan makan ayam.”
“60 ekor ayam?”
“Iya. Kenapa, Wa Salamah?”
“Apa cukup? 800 tamu seharusnya ada 100 ekor ayam.”
“Ah, tetua kampung yang bilang saat rapat peujok buet cukup 60 ekor.”
***
Baca juga: Jantung yang Mengikuti – Cerpen Ida Fitri (Republika, 11 Juni 2017)
Senyap, tak ada yang menjawab, sampai salah seorang perempuan berkain batik menjerit dan melompat-lompat dalam kelom pok orang-orang yang merajang cabe, bawang, dan lainnya. Seluruh perhatian tertuju pada perempuan yang menaik-naikkan kain batiknya itu, seekor belalang merayap di betisnya. Perempuan yang lebih tua mengambil binatang tersebut dan mem buangnya, “ternyata hanya seekor belalang, kupikir tadi pacet atau ulat. Kenapa pula harus melompat-lompat?”
“Geli aku, Wa.” Perempuan-perempuan lain ikut menyalahkan perempuan yang melompat-lompat tersebut, hanya kemudian mereka kembali merajang cabai dan ber cerita tentang harga beras yang semakin meroket.
Di ruang depan, penyewa pelaminan terlihat sedang memasang kain-kain berwarna warni dengan hiasan kasab keemasan di dinding. Sebuah pelaminan khas Aceh berwarna merah bercampur hijau sudah berdiri di dinding yang mengahadap ke pintu keluar. Salah seorang dari mereka, yang penampilannya agak kemayu menjerit tertahan karena tangannya tertusuk paku payung, lalu diisapnya luka di jempolnya, kemudian dipencet-pencetnya luka itu dan darah segar keluar. Temannya menanyakan obat merah pada pemilik rumah yang ternyata tidak menyimpan obat tersebut. Lelaki kemayu yang tangannya terluka menggeleng-geleng kepala, mengatakan tangannya tidak apa-apa. Pemilik pelaminan sepertinya menyanggupi untuk membeli obat saat pulang nanti dan mereka kembali bekerja menempelkan kain dan hiasan ke dinding rumah Kak Puteh.